Beranda Headline Kabar Saudara Mualaf di Sudut Negeri: Kondisi di Halmahera Selatan

Kabar Saudara Mualaf di Sudut Negeri: Kondisi di Halmahera Selatan

BERBAGI

Ternate, Ahad.co.id- Kali ini kita akan menceritakan kabar saudara mualaf di Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara. Setelah empat jam penerbangan Jakarta – Ternate kemudian delapan jam perjalanan kapal laut dari Ternate ke Bacan, Halmahera Selatan, akhirnya kami bertemu dengan dr Rivadin Nurwan SpA  dan dr Haris SpB ketua dan sekertaris  Jamaah Masjid Asy Syifa atau yang lebih dikenal dengan JMS di masjid Asy Syifa komplek RSUD Labuha. Masjid kecil dan sederhana berukuran 10×10 meter.

“Saat ini kami membina lebih dari 100 keluarga mualaf di 10 desa binaan bekerjasama dengan Majelis Taklim Bedah Digestif Indonesia, alumni FK univerisitas Airlangga angkatan 98 , alumni FK UGM angkatan 97  dan alumni rohis FK UI 2003 ” kata dr Rivadin mengawali pembicaraan.

Seperti banyak diketahui dari media massa, bahwa gerakan dakwah mualaf yang dimotori tenaga – tenaga medis ini telah berjalan sejak tahun 2019.

“Kami melihat saudara mualaf ini seperti saudara tiri saja, perhatian saudara muslim yang lain sangat kurang, lemah secara akidah dan ekonomi maupun tingkat pendidikan. Di beberapa desa kami dapati meski sudah puluhan tahun menjadi mualaf mereka masih belum mampu wudhu dan shalat dengan benar,” ujar dokter spesialis anak jebolan UGM ini.

Ada juga beberapa kasus, mereka hanya bekerja mencari cabai dan bahan untuk sapu lidi di hutan. Mereka tinggal menumpang di tanah milik orang lain serta anak-anak mereka putus sekolah, dan ini luput dari perhatian saudara muslim yang lain. Di beberapa desa binaan ternyata jumlah mualaf mengalami penyusutan drastis, dari 100 persen menjadi 54 sampai 10 persen dalam 20 tahun.

“Kami mengirimkan dai untuk tinggal bersama mualaf, mereka mendampingi dan membina mualaf di desa desa terpencil. Kami mengirim dai sampai Desa Sum Kecamatan Obi Timur maupun Desa Lata Lata di Kasiruta Barat. Ini ujung-ujungnya Kabupaten Halmahera Selatan. Kedepan kami berencana menambah desa binaan lagi yang memang masuk kriteria rawan akidah,” tambahnya.

Sebagai program pendamping tim JMS membuat program pembangunan dan renovasi masjid dan musholla. Saat ini JMS melakukan pembangunan Musholla Ar Rahman Desa Geti Baru, Musholla Iladhulumati Ilannur Desa Geti Lama, Masjid Desa Bori, Masjid Muhajirin Desa Lata Lata dan beberapa masjid di desa lain. Malah Masjid Asy Syifa sendiri sebagai pusat pergerakan dakwah ini tetap sederhana tanpa renovasi karena pemilihannya berdasarkan urgensi kebutuhan mualaf.

Baca juga :   Para Pelajar Ikutan "Baper" di Kaki Sinabung

“Kondisi masjid dan musholla di beberapa desa binaan memang memprihatinkan. Ada musholla di salah satu desa binaan dengan 10 KK mualaf yang tanpa listrik awalnya. Sholat magrib, isya dan subuh tanpa lampu, kayu dan pondasi lapuk dan bocor saat hujan,” kata dia.

JMS juga menyusun program lain seperti  bedah rumah mualaf, beasiswa mualaf sampai kuliah, perpustakaan masjid desa mualaf, sampai program ketahanan pangan dan program inisiasi ekonomi desa mualaf. Pelan tapi pasti akidah mualaf semakin terjaga,” ujar dr rivadin yang juga menjabat sebagai ketua IDI Kabupaten Halmahera Selatan ini.

Sumber pendanaan JMS selama ini dari donatur dan keuntungan usaha divisi usaha JMS. Untuk pendanaan mandiri mereka merintis usaha kapal bagan penangkap ikan.

“Program ini rendah resiko, break even point kurang dari 1 tahun dan profit bagus. Cocok untuk bentuk kerjasama investasi maupun infak produktif. Kalau ini numpang promosi kebaikan,” sambung dr Haris sambil tertawa.

Lebih lanjut ia menjelaskan, JMS punya prinsip ketat dalam akad donatur. Akad untuk pembangunan masjid A tidak boleh dialihkan ke masjid B. “Kami juga berprinsip saldo nol yang artinya donasi harus segera disalurkan dan terakhir kami tidak mengambil bagian amil dari dana donasi,” sambung dokter bedah lulusan UNAIR ini

“Jika ditanya soal impian tentu kami punya, yaitu membina desa desa lain dengan kategori rawan akidah  dan membangun pesantren plus agar nantinya terbentuk generasi baru dari anak-anak mualaf saudara kita ini,”  ujar dr Rivadin menutup pertemuan kami.

Pertemuan kali ini menambah wawasan baru bagi kami betapa perhatian ke saudara mualaf kita sangat kurang padahal mereka mendapat tantangan berat dan sering kali dikucilkan keluarga mereka. Semoga Allah memudahkan program dakwah mualaf di Halmahera Selatan ini.