Beranda Syiar Gandeng FEE Center, Ponpes Riyadhul Huda Buka Program Bahasa Inggris

Gandeng FEE Center, Ponpes Riyadhul Huda Buka Program Bahasa Inggris

BERBAGI

Bogor, Ahad.co.id- Pondok Pesantren Riyadhul Huda Bogor membuka program pelatihan bahasa Inggris selama satu bulan bersama Future English Education (FEE) Center dari Kampung Inggris, Pare, Kediri, Jawa Timur.

Pembukaan program tersebut dilaksanakan pada Ahad (28/2/2021) di Ponpes Riyadhul Huda, Kampung Citapen, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor.

Pimpinan Ponpes Riyadhul Huda KH Badru Kamal mengatakan, kebutuhan pembelajaran bahasa internasional saat ini penting dilakukan untuk menunjang dakwah.

“Untuk mempermudah penyampaian dakwah maka dibutuhkan bahasa internasional. Oleh karenanya Pesantren Riyadhul Huda bekerjasama dengan Free Center Kampung Inggris memenuhi kebutuhan bahasa tersebut,” kata Ustaz Badru dalam sambutannya.

Dalam kesempatan itu, Badru menyampaikan tujuan berdirinya Ponpes Riyadhul Huda yaitu untuk mencetak generasi Muttaqin, Imamul Muttaqin dan Ulamaul Amilin.

“Muttaqin adalah orang-orang bertakwa, sehingga apapun profesinya ia menjadi insan bertakwa. Misal ada santri menjadi dokter atau pejabat maka akan menjadi dokter dan pejabat yang bertakwa,” jelasnya.

Kemudian Imamul Muttaqin adalah orang yang menjadi imam atau pemimpin di tengah masyarakat yang bisa mengajak kepada kebaikan sesuai ajaran Allah dan Rasul-Nya.

Baca juga :   DPP Himpunan Alumni IPB dan ARM HA IPB Gelar Vaksinasi

“Sedangkan Ulamaul Amilin adalah Ulama atau orang yang memahami berbagai aspek keilmuan, baik dalam ilmu agama maupun ilmu yang berkaitan dengan sosial seperti ekonomi, politik dan lainnya,” kata Ustaz Badru.

Sementara itu, Pimpinan FEE Center Abdul Malik menyampaikan pentingnya bisa berbahasa Inggris. Saat pengalaman ke Thailand, Malik bertanya kepada orang-orang Muslim di sana, kemana biasanya mereka belajar ilmu agama? Dan ternyata mereka menjawab ke Malaysia.

“Mereka bahkan tidak tahu bahwa Indonesia sebagai masyakarakat pemeluk agama Islam terbesar di dunia dan memiliki lebih banyak pesantren ketimbang di Malaysia,” ungkap Malik.

Rupanya, kata Malik, setelah ditelusuri, Bahasa Inggris sudah menjadi bahasa utama masyarakat Malaysia walaupun masih bercamur dengan Bahasa Melayu.

“Oleh karenanya perlu bagi pesantren untuk mulai menggunakan Bahasa Inggris sebagai salah satu bahasa pengantar dalam pembelajaran,” tandasnya. [ ]