Beranda Berita Survei DMI: Generasi Muda Tidak Percaya Masjid Terpapar Radikalisme

Survei DMI: Generasi Muda Tidak Percaya Masjid Terpapar Radikalisme

BERBAGI

Jakarta, Ahad.co.id – Jumlah masjid dan mushala di kota-kota besar di Indonesia terus mengalami perkembangan. Ketua Umum DMI Drs. M. Jusuf Kalla menyebut hingga Tahun 2018 ini Indonesia memiliki 800 ribu masjid dan mushala.

Menurut Ketua Departemen Kaderisasi Pemuda dan Remaja Masjid PP DMI, drg. M. Arief Rosyid Hasan, M.KM., tidak hanya jumlah masjid, keterlibatan jamaah juga tumbuh dan semakin semarak.

“Salah satu kelompok jamaah yang menonjol adalah generasi muda. Dengan tingkat pendidikan dan wawasan yang berbeda dengan generasi di atasnya, mereka tampak memiliki aspirasi yang lebih beragam terhadap keberadaan dan kegiatan di masjid,” kata drg. Arief dalam keterangan resminya, Selasa (27/11/2018).

Maka dari itu, Departemen Kaderisasi Pemuda PP DMI bekerjasama dengan Merial Institute melakukan survei terhadap generasi muda muslim. Survei berlangsung pada 17-21 Juli 2018. Jumlah responden sebanyak 888 orang pemuda Islam berusia 16-30 tahun dan berdomisili di 12 kota besar: Jakarta, Depok, Bekasi, Tangerang, Bogor, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Semarang, Makassar, Medan, Palembang.

“Beberapa temuan yang menarik di antaranya di antaranya adalah, sebanyak 33,6% responden mengaku selalu datang beribadah di masjid setiap hari. Sisanya 66,4%responden tidak datang setiap hari,”ungkap drg. Arief.

Namun di sisi lain, lanjut Arief, hanya 33,2% responden yang menganggap bahwa pengelolaan masjid saat ini telah mewakili aspirasi generasi muda. Mereka merasa perlu variasi kegiatan dan perbaikan dalam pengelolaan fasilitas di masjid.

“Sebanyak 96% responden menganggap perlu kegiatan pengajian, zikir, tabligh
akbar di masjid. Sedangkan 95% responden menganggap perlu kegiatan pendidikan: kursus dakwah, pelatihan imam, pesantren kilat di masjid,” jelasnya.

Baca juga :   Gerakan Indonesia Salat Subuh (GISS) Dideklarasikan di Tangsel

Selain itu, sebanyak 73,9% responden membutuhkan kegiatan usaha di masjid: baik dalam bentuk koperasi, mini market ataupun warung. Sedangkan 67,3% responden merasa perlu diadakan kegiatan olahraga dan kebugaran di masjid.

“Kekhawatiran berbagai pihak tentang masjid menjadi persemaian paham radikalisme juga tidak tampak. Hanya 6,98% responden mengaku pernah menemukan materi ceramah yang berisi ajakan untuk memusuhi agama dan etnis tertentu. Dan hanya 2,03% yang setuju dengan materi tersebut,” ujarnya.

Kemudian, katanya lagi, kekhawatiran masjid digunakan untuk tujuan politik praktis juga masih ada, namun tidak terlalu signifikan. Hanya 15,65% responden pernah menemukan materi ceramah yang berisi ajakan politik praktis di masjid. Dan hanya 15,54% yang setuju dengan materi tersebut.

Arief menegaskan generasi muda tampak lebih banyak beribadah di masjid. Namun mereka membutuhkan variasi kegiatan sosial dan ekonomi di masjid.

“Mereka berharap masjid dapat dimanfaatkan lebih dari sekadar tempat ibadah salat,”tuturnya.

Arief juga mengatakan meningkatnya harapan generasi muda umat Islam terhadap pengelolaan masjid perlu disambut gembira oleh berbagai pihak. Juga diikuti dengan perbaikan
pelayanan dan fasilitas masjid.

“Sehingga harapan kita dapat tercapai: umat Islam lebih banyak memakmurkan masjid, sekaligus dimakmurkan oleh masjid,”tandasnya.

Bilal