Beranda Headline Penasaran dengan Sandi

Penasaran dengan Sandi

BERBAGI
Pemimpin redaksi AHAD.CO.ID, Tjahja Gunawan Direja/Dokpri

Oleh Tjahja Gunawan
Pemimpin redaksi Ahad.co.id

Ahad.co.id- Sebenarnya ini tulisan yang tertunda. Nah, karena ada diskursus soal ulama di tahun politik ini, Saya tuntaskan dan posting tulisan ini.

Saya bukan ingin bertemu dengan Sandiaga S. Uno untuk menjawab rasa penasaran, tapi ingin bertemu dengan ibundanya, Ibu Mien Uno.

Saya sebenarnya ingin tahu do’a apa saja yang kerap dipanjatkan Ibu Mien S Uno terhadap anaknya. Saya teringat deng hadist Nabi Muhammad SAW:

“Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.”

Sebenarnya saya sudah lama kehilangan nomor kontak Ibu Mien Uno, namun Alhamdulillah pada hari Senin 6 Agustus 2018 lalu, tiba-tiba dia WA saya seraya mengirimkan foto dan video pertemuan dengan teman lamanya Pak Jakob Oetama, wartawan senior yang juga pendiri Kompas.

Selama ini saya ingin sekali bertemu dan ngobrol dengan Bu Mien Uno. Alhamdulillah, justru dia yang mengirim kabar lebih dulu. Tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua sudah diatur Allah SWT. Kalau bertemu Bu Mien, saya cuma mau mengajukan satu pertanyaan: Bagaimana mendidik dan menjadikan anak yang sholeh?

Tentu pertanyaan tersebut mengacu kepada putranya Bu Mien yakni Sandiaga Uno, yang kini menjadi pusat perhatian masyarakat setelah yang bersangkutan memutuskan masuk ke dunia politik.

Semua orang juga sudah mengetahui prestasi dan pencapaian Sandi di dunia usaha. Namun tidak semua orang termasuk saya, mengetahui bagaimana dia bisa istiqomah sampai sekarang menjalankan puasa Daud dan Shalat Dhuha.

Ada hikmahnya juga Sandi masuk dunia politik karena dengan begitu syiar Islam dan amal-amal ibadah ubudiahnya menjadi contoh dan teladan bagi umat Islam. Sampai ada yang menjuluki dia sebagai ulama. Saya tidak ingin masuk ke wilayah perdebatan ini. Saya cuma mau memberi perspektif dari apa yang Saya amati dan liat langsung.

Saat masih menjadi Wagub DKI Jakarta, bersama Anies Baswedan, Sandi menerapkan kebijakan sholat wajib berjamaah di Mesjid Pemprov DKI Jakarta. Setiap memasuki waktu shalat, suara adzan pun masuk ke setiap ruangan kerja pegawai Pemda DKI dan semua pekerjaan dihentikan.

Tidak hanya itu, dalam kesehariannya Sandi senantiasa mengikuti apa yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW. Misalnya, minum dengan tangan kanan. Saat pelantikan sebagai Wagub DKI tahun 2017, sambil mengenakan pakaian resmi PDL, Sandi tidak segan untuk jongkok saat hendak minum.

Informasi tentang amal-amal ibadah harian Sandi, Saya peroleh dari media sosial. Namun juga bukan keterangan langsung dari Sandi atau Bu Mien Uno, melainkan dari testimoni banyak orang baik dalam bentuk tulisan maupun foto. Dan itu, baru saya ketahui setelah Sandi masuk ke dunia politik.

Baca juga :   One Care Kembali Kirimkan Tim Relawan ke Cox’s Bazar

Terus terang, sebelumnya saya biasa-biasa saja mendengar nama Sandiga Uno. Dia lahir dari keluarga relatif mapan, hidup di Jakarta, melanjutkan kuliah di luar Negeri, Amerika Serikat. “Kalau dia menjadi pengusaha atau menjadi seorang profesional ya wajar saja,” begitu kesan saya sebelumnya.

Namun kemudian, saya agak tercengang ketika suatu waktu datang dalam deklarasi Gerakan Indonesia Shalat Subuh (GISS) di Mesjid Al Falah Pejompongan Jakarta, Sandiaga Uno ternyata fasih dalam melafadzkan ayat-ayat Al Quran saat memberikan sambutan.

Ketika itu Pilkada DKI Jakarta baru saja usai, namun Anies-Sandi belum dilantik sebagai Gubernur dan Wagub DKI Jakarta. Nah dari situlah, Saya mulai penasaran dengan Sandiaga Uno.

Lama saya membuka-buka internet, untuk mencari tahu rahasia atau tips agar bisa konsisten menjalankan amal-amalan Sunah Nabi ditengah ketatnya jadwal kegiatan sehari-hari.

Alih-alih saya mendapat info dari sumbernya langsung, justru amal ibadah ubudiyah Sandi ini berasal dari informasi masyarakat (warganet). Terakhir misalnya, saat Sandi menunaikan ibadah Sholat Dhuha di kereta api Parahyangan Jakarta-Bandung, seorang penumpang yang duduk di bagian depan sempat merekam video dari balik kursi penumpang.

Pucuk dicinta ulam tiba, harapan Saya untuk bertemu dengan Bu Mien Uno akhirnya terwujud. Malalui sekretarisnya, Saya bertemu dan ngobrol dengan Bu Mien Uno di kantornya Duta Bangsa di Gedung Mega Syariah di Jl Rasuna Said Jakarta.

Namun, pertemuan dengan Bu Mien tetap belum menjawab pertanyaan utama Saya : Bagaimana Sandi bisa konsisten menjalankan ibadah Sunah Nabi ?

Demikian pula Sandi, sepanjang yang Saya ikuti jejaknya di dumay (dunia maya), tak pernah sekalipun bercerita tentang praktik ibadah ubudiyah yang dilakukan selama ini.

Memang seharusnya begitu, biarlah itu menjadi rahasia dia dengan Sang Khalik. Allah SWT.

Meskipun masih penasaran dengan Sandi, tapi saya bisa menarik benang merah dari Cawapres yang digandrungi emak-emak dan kelompok milenial ini. Yakni Akhlak dan Iman adalah bagian dasar atau pondasi dalam kehidupan manusia. Tidak akan muncul akhlak yang baik bila tanpa iman. Begitupun tidak akan sempurna keimanan jika tanpa akhlak yang baik.

Untuk itu, akhlak dan keimanan tidak dapat dipisahkan sendiri-sendiri. Semuanya sangat bergantung dan saling mempengaruhi.

Wallohu’alam bishawab.