Beranda Berita Ini Jejak Penggunaan Senjata Kimia oleh Bashar Assad

Ini Jejak Penggunaan Senjata Kimia oleh Bashar Assad

BERBAGI
Personil OPCW memeriksa dugaan penggunaan senjata kimia oleh Assad di Khan Sheikhoun

Damaskus, Ahad.co.id- Tim pencari fakta dari Organization for the Prohibition of Chemical Weapons (OPCW) yang tiba di Suriah sejak Sabtu belum bisa masuk Douma. Hingga kemarin, tim OPCW belum bisa mengakses lokasi terjadinya serangan kimia.

Padahal, semakin lama tertunda, jejak racun kimia di lokasi kejadian semakin sulit terlacak.

Di Damaskus, ratusan pendukung Presiden Bashar Al Assad berunjuk rasa. Associated Press melaporkan bahwa massa memuji kinerja militer Suriah yang sukses mencegat rudal-rudal AS dan sekutunya.

Rusia dan Suriah memang mengklaim sukses menembak jatuh sejumlah rudal yang diarahkan ke tiga titik sasaran di Suriah. Namun, AS menepis laporan itu. Trump menyebut misinya sukses besar.

Douma bukan kota pertama yang mendapatkan serangan senjata kimia dari rezim Assad. Sejak 2014 militer Suriah berkali-kali menggunakan senjata kimia.

Pada September 2014, OPCW melaporkan bahwa Assad punya beberapa gudang senjata kimia dan berkali-kali digunakan dalam serangan udara. Termasuk serangan di Talmanes, Al Tamanah, dan Kafr Zita.

Selain itu, tahun 2015 OPCW berhasil menemukan bukti kuat bahwa Assad menggunakan senjata kimia (gas sulfur mustard) di salah satu lokasi serangan. Seorang bayi meninggal akibat racun kimia yang sama dengan yang ditemukan pada jasad dua korban tewas di lokasi kejadian.

Baca juga :   Puluhan Pengungsi Rohingya Kembali Terdampar di Aceh

Agustus 2016 mereka menemukan bukti pemakaian senjata kimia dalam aksi udara, tetapi tidak bisa memastikan jenis racun kimia yang digunakan.

Berlanjut di April 2017, OPCW mengirim tim pencari fakta ke Khan Sheikhoun untuk membuktikan dugaan serangan kimia yang merenggut 83 nyawa dan mengakibatkan 300 orang terluka. Pada Juni 2017, OPCW merilis temuannya bahwa zat kimia dalam serangan maut di Khan Sheikhoun adalah sarin.

14 April lalu, mereka mengirim tim pencari fakta untuk mencari bukti serangan kimia oleh Assad ke Douma. Dugaan awal, gas klorin dan satu jenis zat kimia mematikan lain digunakan dalam serangan tersebut.

Organization for the Prohibition of Chemical Weapons (OPCW) dibentuk pada 1992 sebagai bagian dari Chemical Weapons Convention. Organisasi yang berkantor pusat di Den Haag, Belanda, itu beroperasi sejak 1997. OPCW beranggota 192 negara dan meraih Nobel Perdamaian 2014 karena menggagas pemusnahan senjata kimia Suriah.

Hasbi Syauqi