Beranda Mimbar Membezuk “Ekonomi Pancasila” yang Kini Tergeletak Sekarat

Membezuk “Ekonomi Pancasila” yang Kini Tergeletak Sekarat

BERBAGI
Asyari Usman/sumber foto: dokumentasi pribadi

Oleh Asyari Usman
Wartawan Senior

AHAD.CO.ID- Karena Pancasila menjadi dasar Indonesia dalam berbangsa dan bernegara, maka secara otomatis perekonomian pun harus dikelola dengan rambu-rambu filosofis itu. Dengan demikian, formula ekonomi Pancasila ialah ekonomi yang kerketuhanan, ekonomi yang berkeadilan dan beradab, ekonomi yang merajut persatuan, ekonomi yang berbasis musyawarah, dan ekonomi yang dibangun untuk seluruh rakyat.

Luar biasa. Bisa kita sebut “ekonomi samawi” alias “ekonomi langitan” (kalau kita pinjam istilah orang Jawa). Akan tercipta masyarakat yang adil dan makmur, tidak ada orang yang tertinggal atau tersingkir. Tidak ada yang menindas, tidak ada yang tetindas. Tidak ada yang lapar, tidak ada yang terlampau kenyang. Tidak ada mafia, tidak ada korban intimidasi. Sistem perekonomian yang sangat ideal. Ekonomi Pancasila.

Tetapi, masih adakah Ekonomi Pancasila itu?

Inilah yang menjadi masalah. Banyak yang merasa malu dan dipermalukan kalau kita bicarakan topik ini. Sebab, ekonomi Pancasila mengalami nasib yang sangat tragis. Dia kini tergeletak kurus kering. Tidak ada yang peduli. Dia mengalami depresi berat karena “anak-anak”-nya durhaka, menjauhi dia. Anak-anak ekonomi Pancasila kini terbuai dalam tipuan neo-liberalisme dan kapitalisme.

Ketika saya bezuk baru-baru ini, ekonomi Pancasila sedang dalam kondisi sekarat. Saya ajak beliau berbicara, tetapi sudah tidak bisa lagi banyak berkata-kata. Dia lemah sekali. Tetapi, dia masih bisa menjelaskan mengapa dirinya menjadi seperti itu.

Mbah Ekop (begitu julukan warga untuk Ekonomi Pancasila) mengaku sangat kecewa dengan sikap hipokrasi (munafik) anak-anaknya, terutama anak-anak beliau yang kuliah di Barat. “Mereka,” kata beliau, “menceramahkan tentang saya, tentang Ekonomi Pancasila, tetapi di belakang saya mereka mengamalkan libileralisme-kapitalisme.”

Suasana perbincangan kami menjadi sangat mengharukan. Sesekali Mbak Ekop menggumam bibirnya, bagaikan mau menangis.
Apa yang Mbah Ekop sedihkan?

“Dulu, Pak Karno mengamanatkan agar para pemimpin generasi penerus tetap berpedoman pada saya. Tetapi, entah bagaimana, orang-orang itu pelan-pelan menyingkirkan saya,” kata Mbah Ekop.

Beliau mengatakan, orang-orang lulusan Amerika membisikkan kepada Pak Harto bahwa perekonomian Indonesia bisa mengikuti formula Mbah Ekop, walaupun pada saat bersamaan menerapkan “pasar bebas terkendali”.

Dan memang, di era 1970-an sampai 1980-an akhir, petuah-petuah Mbah Ekop masih diikuti. Misalnya, ada Badan Urusan Logistik (Bulog) yang berperan besar. Cuma, orang-orang Bulog-nya yang menjadi maling. Akhirnya, Bulog pelan-pelan direduksi menjadi gudang tok. Fungsi sosialnya dipreteli. Semua menjadi bebas. Full freedom, market economy.

Mbah Ekop semakin dilupakan sejalan dengan pertumbuhan lambang-lambang liberalis-kapitalis di Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Gedung-gedung pencakar langit. Rumah dan mobil mewah. Pusat-pusat perbelanjaan mahal. Dan barang-barang konsumer berkelas dunia, berharga selangit. Yang disebut oleh para pemuja liberalisme-kapitalisme sebagai kesuksesan inovasi pasar bebas.

Baca juga :   Aksi Simpatik 55 Bukti Umat Islam Mencintai NKRI

Ketika dia masih ada tenaga, Mbah Ekop sering menyambangi kantong-kantong kumuh di perkotaan dan pedesaan pinggir pantai yang sejak dulu sampai sekarang tetap miskin dan terbelakang. Mbah Ekop sangat cocok dengan suasana di bawah.

“Mbah, masih ingat bagaimana proses sampai Mbah Ekop diterlantarkan seperti ini?”

“Pak Harto masih berusaha menyelamatkan saya. Dia beri saya tempat yang layak. Tetapi, Pak Harto rupanya tak sanggup juga membedung kegemaran pada kapitalisme. Termasuk keluarga beliau sendiri. Kerakusan melanda semua orang,” kata Mbah Ekop terbata-bata.

“Situasi lebih parah setelah Pak Harto dilengserkan,” uajar beliau.

Pemerintah-pemerintah penerus semakin gila. Tidak ada satu pun yang ingat pada Mbah Ekop. Saya perhatikan mata beliau berlinang-linang ketika menceritakan sesuatu yang sangat tidak masuk akal bagi beliau.

“Bahkan,” ujar Mbah Ekop lirih, “ahli waris Pak Karno pun tidak ingat sama saya. Mereka semua menjadi kapitalis. Mereka mengikuti gaya hidup borjuis. Hanya satu-dualah yang sesekali menyebut-nyebut nama saya.”

“Mbah, bukankah mereka itu mewakili rakyat kecil, wong cilik?”

“Mereka hipokrit. Lihat saja gaya hidup M*g***t*. Dia menjual BUMN kepada investor asing. Untuk apa? Pastilah demi uang,” ujar Mbah Ekop.

Kemudian saya tanya komentar beliau tentang Jokowi. Wajah Mbah Ekop berubah drastis. Saya pun menjadi menyesal menanyakan ini. Saya panggilkan dokter ahli penyakit ideologi.

“Pak, kelihatannya Mbah Ekop tak bisa ditolong lagi,” kata dokter kar-ideologi.

Saya lihat mata Mbah Ekop mulai redup. Kelopak matanya tertutup. Saya panggil namanya dua kali. Tidak ada reaksi. Perasaan saya mulai tak enak. Saya berkata dalam hati, inikah waktunya Mbah Ekop pergi untuk selamanya?

Secara spontan saya taklinkan kalimat tauhid ke telinga beliau. Hampir lima menit.

Tiba-tiba Mbah Ekop berucap pelan sekali. “Hati-hati dengan Jokowi. Dia tak pernah kenal aku, Ekop. Dia akan lebih dahsyat memuja liberalisme-kapitalisme.”

Rupanya, itulah ucapan dan pesan terakhir Mbah Ekop. Beliau menghembuskan nafas terakhirnya di era Jokowi ini.
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Selamat jalan Mbah Ekop, selamat jalan Ekonomi Pancasila.

*Isi tulisan dalam rubrik Mimbar sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis, tidak mencerminkan pandangan redaksi AHAD.CO.ID. Jika anda memiliki opini terkait persoalan-persoalan terkini, silakan kirimkan tulisan anda ke redaksi@ahad.co.id