Beranda Headline Perjalanan Para Dokter Halmahera Selatan Menjadikan Masjid Sebagai Mercusuar Dakwah

Perjalanan Para Dokter Halmahera Selatan Menjadikan Masjid Sebagai Mercusuar Dakwah

BERBAGI

Ahad.co.id- Masjid selayaknya difungsikan tak hanya sebagai tempat ibadah mahdhah, tapi juga sebagai sentra pelayanan kepada umat, dan menjadi pelopor berbagai gerakan kebaikan.

Begitulah prinsip yang diyakini dr Abdul Haris Nasrudin ST, SpB FINACs beserta tim dokter lain yang mengelola Masjid Asy Syifa di RSUD Labuha Bacan, Halmahera Selatan, Maluku Utara. Dari “hanya” masjid di RSUD, kini Asy Syifa perlahan berusaha melayani umat lebih luas melalui berbagai program dakwah ke pulau-pulau terpencil.

Berikut kisah selengkapnya yang dituliskan oleh dr Abdul Haris untuk Ahad.co.id. Selamat mengikuti.

Awalnya kami seperti masjid – masjid yang biasa, hanya berdakwah di lingkungan RSUD Labuha Bacan Halmahera Selatan Maluku Utara. Aktivitas masjid Asy Syifa sebelumnya sempat vakum hampir 2 tahun. Masjid kami kecil lebih mendekati ukuran musholla sehingga hanya bisa menampung jamaah 60 orang bila teras juga digunakan untuk sholat. Kas masjid saat itu hampir kosong namun kami menerima infak rutin dari pegawai 2,5 juta setiap bulan.

Kemudian terjadi gempa Gane 7,2 SR 14 Juli 2019, karena jamaah masjid kami banyak dokter dan perawat kami mengirimkan tim tanggap bencana dikoordinir oleh dr Rivadin Nurwan SpA dan dr Yusuf SpAn yang bertugas di desa terdampak gempa di pulau Bacan sampai pulau Gane. Setiap tim bertugas 1 sampai 7 hari. Tim ini juga menyalurkan daging dari tiga ekor sapi siap saji, melakukan baksos dan sunatan massal pasca gempa. Sementara saya sebagai dokter bedah menerima kiriman korban daerah gempa. Masjid Asy Syifa kemudian membuka program donasi untuk korban gempa, kemudian menyiapkan makan/minum untuk keluarga pengantar korban yang bisa mencapai 10 orang setiap pasien.

Data yang diperoleh tim tanggap bencana yang kami kirim, menunjukkan aktivitas masjid di desa terdampak gempa berhenti, sholat Jumat maupun sholat lima waktu hanya diikuti oleh relawan, bahkan di salah satu desa terdampak gempa perangkat desa melakukan aktivitas larung laut yang menjurus kesyirikan, disisi lain lembaga keIslaman yang turun di daerah gempa cenderung hanya fokus pada tanggap bencana saja namun kurang perduli dengan pemulihan spiritual pasca gempa. Hal ini mendorong kami membuat program pengiriman dai ke tujuh desa terdampak gempa untuk pembentengan akidah dan menghidupkan kembali aktifitas keagamaan di masjid.

Dai yang kami kirim tinggal bersama masyarakat. Program ini yang berlangsung sampai Juli 2020. Sebagai tambahan sebagian dai juga menjadi guru sukarela di daerah gempa. Kami juga memutuskan membuat program pembangunan kembali satu-satunya masjid di desa Yomen yang hancur lebur karena gempa Gane bekerjasama dengan beberapa Laznas.

Baca juga :   MUI: Islam Wasathiyah Sesuai dengan Masyarakat Indonesia

Kemudian kami dapatkan fakta terdapat desa desa yang awalnya penduduknya 100 persen muslim 20 tahun yang lalu namun saat ini hanya tinggal 30-40 persen mendorong kami membuat program dai tahap kedua untuk desa desa rawan akidah. Desa-desa dengan ancaman akidah sangat serius direspon dengan serius dengan mengirim dai untuk tinggal bersama masyarakat, bahkan di desa Lata-Lata yang berjarak 4 jam perjalanan dengan perahu kayu ini, Ustadz Ansar membawa anak dan istrinya untuk berdakwah di sana. Mereka membina masjid sekaligus menjadi guru sukarela tidak dibayar. Di desa Geti Ustadz Joharudin tinggal bersama masyarakat dan berdakwah dengan berjalan kaki dari desa Geti Lama dan Geti Baru selama 1-2 jam. Kami juga mengirim Ustadz Phaisol untuk membina 35 KK mualaf di desa Wayamiga.

Selanjutnya kami temukan bahwa pembinaan mualaf pasca ikrar syahadat hampir tidak dilakukan oleh lembaga terkait maupun lembaga keIslaman mendorong kami membuat program pembinaan mualaf dan program anak asuh untuk anak anak dengan ancaman akidah. Program bantuan pasien tidak mampu dibuat juga berdasarkan kenyataan tidak mudah mendapatkan bantuan akomodasi merujuk pasien.

Sementara Divisi outdoor dan bantuan medis dibentuk untuk menampung hobi sekaligus sebagai tim bantuan medis yang secara rutin melakukan bakti sosial dan sunatan massal diberbagai pulau di Halmahera Selatan yang juga memberi pelatihan untuk sekolah-sekolah. Untuk merintis kemandirian finansial kami membentuk divisi usaha dana yang mulai menggali potensi bisnis oleh-oleh khas Bacan.

Hal yang kami petik dari perjalanan dakwah singkat masjid Asy Syifa adalah sebenarnya dakwah berbasis masjid bisa sangat efektif karena keluar dari sekat-sekat kelompok muslim sehingga mudah diterima masyarakat.

Sebagai bagian untuk memperjuangkan Impian kami membangun pesantren tahfidz plus. Pesantren yang membekali santrinya tahfiddz quran dan skill yang mumpuni sekaligus menjadi Islamic Crntre dan Mualaf Centre di Halmahera Selatan maka kami akhirnya membentuk Yayasan Jamaah Masjid Asy Syifa. Sungguh benar motto yang kami yakini “Hai orang-orang beriman, jika kamu menolong agama Allah, niscaya DIA akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu (QS: Muhammad :7)”.