Beranda Headline Serikat Tani Islam Indonesia, Ikhtiar Agar Petani Berdaulat

Serikat Tani Islam Indonesia, Ikhtiar Agar Petani Berdaulat

BERBAGI

Jakarta, Ahad.co.id- Ada sekitar 33,4 juta petani Indonesia, yang lebih dari 90% diantaranya sudah berusia tua. Lahan milik mereka rata-rata hanya 0,2 ha. Nilai Tukar Petani atas produk-produk mereka juga kian merosot. Bahkan acapkali mereka memilih tidak memanen dan menjual hasil bertaninya ketimbang makin merugi.
Itulah alasan eksistensi Serikat Tani Islam Indonesia (STII) dipertahankan dan direvitalisasi saat ini. Dalam sejarahnya, STII merupakan organ Masyumi untuk mengimbangi gerakan organ PKI di kalangan petani. Pada 26 Oktober mendatang, STII memasuki usia 74 tahun. Untuk lebih mengetahui peran pentingnya, berikut wawancara dengan Ketua Umum Pengurus Besar Serikat Tani Islam Indonesia (PB STII) Fathurrahman Mahfudz:

Sudah sejauh mana perkembangan STII?

Baca juga :   Teken MoU, Forum Jurnalis Muslim Bakal Latih Relawan MRI se-Indonesia

STII sudah 74 tahun sejak berdiri pada 26 Oktober 1946. Dalam perkembangannya, STII organisasi yang diperhitungkan. Misalnya, ketua umum pertama dan kedua pernah ditunjuk menjadi menteri pertanian ketika itu.
Sejak awal STII punya berbagai usaha kerakyatan dalam rangka menjaga kedaulatan pangan dengan produk mulai dari padi, tanaman palawija seperti jagung, singkong dan lainnya. Dalam perjalanannya, STII mengalami dinamika yang naik turun. Pada periode saat ini kita revitalisasi lagi dengan tagline “STII Hadir untuk Petani”. Ini sebuah muhasabah sekaligus semangat dalam membantu dalam mensejahterakan petani. STII harus hadir di tengah-tengah mereka.

Bagaimana kondisi petani di masa pandemi, khususnya yang tergabung dalam STII?