Beranda Berita Amanah UUD 45, Pendidikan untuk Tingkatkan Iman dan Takwa

Amanah UUD 45, Pendidikan untuk Tingkatkan Iman dan Takwa

BERBAGI

Makassar, Ahad.co.id – Intelektual Islam, Ustaz Dr. Adian Husaini menjadi salah satu penyampai orasi ilmiah dalam wisuda II Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab (STIBA) Sabtu, 22 Desember 2018.

Cendekiawan muslim ini berharap agar STIBA Makassar bisa menjadi kampus Islam terbaik. Menurutnya, kriteria kampus terbaik tidaklah rumit. Bahkan selama ini sebetulnya sudah dicapai oleh STIBA Makassar, yang merupakan Perguruan Tinggi yang didirikan langsung oleh Wahdah Islamiyah.

“Kampus terbaik menurut Islam adalah khairun naas anfa’uhum linnas, dan khairun naas ahsanuhum khuluqan“, tegasnya.

Jadi, STIBA menjadi kampus terbaik jika alumninya mampu menjadi manusia yang paling bermanfaat bagi orang lain, serta akhlaknya adalah akhlak terbaik.

Selain itu beliau sampaikan juga bahwa kriteria pendidikan yang baik adalah pendidikan yang mampu meningkatkan iman taqwa akhlaq mulia. Ini sesuai amanah Undang-undamg Dasar Pasal 31 ayat 3 yang berbunyi:

“Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang.”

Inisiator MIUMI (Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia) ini juga mengingatkan bahwa alumni institusi pendidikan Islam seharusnya tidak ada yang menganggur. Karena masih sangat banyak yang belum bisa membaca Al Qur’an serta masih merebaknya kemaksiatan di negeri ini.

Baca juga :   AS Siap Luncurkan Ratusan Juta Dollar di “Indo–Pasifik”

“Itu pekerjaan semua. Harusnya tidak ada yang menganggur. Gajinya dari mana? Ya dari Allah,” tegasnya.

Beliau berharap para wisudawan mampu melanjutkan peran para ulama dan santri di Nusantara sejak dahulu kala. “Mereka mampu menjaga negeri kita. Ratusan tahun ulama dan santri kita menjaga masyarakat agar tidak dimurtadkan oleh penjajah”, kata beliau.

Beliau berharap STIBA dapat melahirkan para pejuang dan para pemimpin dengan sebutan “4C Generation“. Yaitu generasi yang memiliki “critical thinking” (mampu berfikir kritis), “creativity” (kreativitas),”competition” (mampu berkompetisi), serta “collaboration” (mampu mengkolaborasikan berbagai peran dan kemampuan),” tutupnya.

Bilal