Beranda Berita Fundamentalisme Bukan Akar Intoleransi

Fundamentalisme Bukan Akar Intoleransi

BERBAGI

Jakarta, Ahad.co.id – Tim Peneliti Dompet Dhuafa, Heru Susetyo tidak sepakat bila kasus intoleran bersumber dari Fundamentalisme. Menurut dia, pengertian Fundamentalisme masih diperdebatkan.

“Kita harus sepakat dulu tentang fundamentalisme, karena orang rancu menyamakan Fundamentalisme dengan terorisme dan radikalisme, menurut saya itu berbeda,” Kata Heru saat Diskusi Publik ‘Politik Identitas dan Intoleransi di Wilayah Muslim sebagai Minoritas’ di Cikini, Jakarta, Kamis (20/12/2018).

Apalagi, lanjut Heru, istilah radikalisme saat ini digunakan untuk komoditas politik. Seperti peristiwa dosen dan PNS dipecat karena dicap radikal.

“Tapi kalau ditanya apa sih radikal? Tidak bisa jawab, sekali jawab yang cingkrang, jenggotan, jidstnya hitam dan bercadar,”ujarnya.

Heru menekankan bahwa radikal tidak otomatis melahirkan terorisme. Karena ada radikalisme sebatas pemikiran dan ada radikalisme berbentuk tindakan.

“Sedikit sekali orang berpikir radikal melakukan terorisme,”ujarnya.

Justru, katanya lagi, fundamentalisme penting dalam aspek tertentu. Asal tetap membuka ruang dialog dan diskusi. Sekedar fundamentalisme tidak berarti melahirkan kekerasan dan terorisme, tapi ketika bercampur situasi sosial, politik atau ekonomi baru bisa melahirkan kekerasan.

“Saya meneliti Papua, kenapa kejadian Papua tidak disebut terorisme, tapi kenapa Poso disebut sebagai terorisme. Padahal di Papua unsur-unsur terorisme terpenuhi, karena ini dikonstruksi oleh penguasa,”jelas dosen FH-UI tersebut.

Baca juga :   DPR RI Pertanyakan Urgensi Impor Beras

Lebih dari itu, imbuh Heru, fundamentalisme dalam ibadah itu harus. Kalau dalam ibadah tidak fundamentalis, seorang muslim bisa tidak melakukan shalat, tidak berpuasa ramadhan, dan sebagainya.

“Fundamentalisme dalam aqidah itu wajar, tapi kalau dalam masalah muamalah harus luwes,”katanya.

Senada dengannya, Pdt Jonathan Victor Rembeth juga mengakui bahwa fundamentalisme dalam ibadah harus. “Jangan sampai saya jadi Kristen yang nano-nano,” ujarnya.

Victor berpendapat soal fundamentalisme harus diselesaikan dulu definisinya, agar tidak menjadi prasangka.

“Soal fundamentalisme mari kita selesaikan bersama, mari kita fundamentalis dalam ibadah, jangan sampai keislaman atau Kekristenan kita begitu liberal, semua agama sama, tidak bisa. Semua agama unik dan berbeda, tetapi tujuan kita untuk bermuamalah membaktikan diri kepada tuhan,”tutupnya.

Victor sendiri sebelumnya menegaskan bahwa intoleransi di Indonesia lebih di pengaruhi warisan pasca kolonial, yang mempengaruhi corak divide et impera (adu domba) .

Bilal