Beranda Berita Soal Masjid Radikal, Pemuda Muhammadiyah: Lempar Isu Hanya Meresahkan

Soal Masjid Radikal, Pemuda Muhammadiyah: Lempar Isu Hanya Meresahkan

BERBAGI

Jakarta, Ahad.co.id – Sekretaris PP Pemuda Muhammadiyah, Pedri Kasman menilai pernyataan Badan Intelijen Negara (BIN) soal penceramah radikal di masjid-masjid instansi pemerintah mendorong keresahan di masyarakat.

“Model tudingan-tudingan begitu hanya akan menciptakan suasana resah dan penuh curiga,” katanya kepada ahad.co.id, Jakarta, Rabu (21/11/2018).

Menurut Pedri, seharusnya lembaga negara setingkat BIN menyerahkan kasus pelanggaran kepada pihak kepolisian, bila memiliki bukti dibanding harus melempar isu yang meresahkan.

“Jika memang ada yang melanggar kenapa BIN tidak serahkan datanya ke penegak hukum untuk ditindak?” tanyanya.

Pedri meminta BIN agar tidak membuat diksi-diksi yang tidak jelas. BIN harus menjelaskan definisi radikal dengan jelas serta menyerahkan kepasa hukum ketika dirasa ada pelanggaran.

“Radikal itu apa ukurannya? Melanggar apa tidak? Jika melanggar silakan ditindak. Begitu mestinya cara pandang kita di negara hukum ini,” cetusnya.

Pedri menekankan pentingnya mendasari persoalan sesuai regulasi yang ada bujan pada asumsi dan opini. “Dan semua harus merujuk pada aturan yang ada. Tidak bisa pakai teori-teori, apalagi hanya dugaan dugaan,” tandasnya.

Baca juga :   Muslim New Jersey Akhirnya Dapat Lanjutkan Pembangunan Masjid

Diketahui, Badan Intelijen Negara (BIN) kembali memaparkan temuan 41 masjid di lingkungan kementerian, lembaga dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang terpapar radikalisme.

Menurut BIN, Ada tiga kategori tingkat paparan radikalisme dari 41 masjid tersebut. Tujuh masjid masuk kategori rendah, 17 masjid masuk kategori sedang dan 17 masjid masuk kategori tinggi.

Namun, dikemudian hari (20/11/2018), BIN melalui Juru Bicaranya Wawan H.Purwanto mengklarifikasi bahwa yang terpapar radikalisme adalah penceramahnya, bukan masjidnya.

Bilal