Beranda Headline Agama Tetap Perlu Dibela

Agama Tetap Perlu Dibela

BERBAGI

Oleh: Yons Achmad
(Kolumnis, tinggal di Depok)

Ahad.co.id – Dalam sebuah seminar “Mufakat Budaya” di Universitas Indonesia (3/11/18), saya dibuat gelisah oleh pernyataan Haidar Bagir, pemikir filsafat sekaligus pendiri penerbit Mizan. Katanya agama tak perlu dibela. Bukan pernyataan baru memang. Konon, Gus Dur juga juga pernah bilang Tuhan tak perlu dibela. Tapi, yang membuat terasa baru ditelinga saya adalah argumennya. Katanya, ketika kita mencoba membela agama, itu berarti kita dan agama ada jarak. Kita di sini, agama di sisi lain. Tepatkah argument demikian?

Ijinkan saya tak sependapat. Logika demikian saya kira lemah. Sekarang coba kita terapkan dalam kasus Pancasila. Ketika seseorang membela Pancasila. Merasa diri paling berhak untuk membela Pancasila, seolah dirinya sendiri yang paling terdepan dalam membela Pancasila. Maka, itu juga berarti, boleh jadi mereka ada jarak. Mereka sebenarnya sedang bermasalah dengan Pancasila itu sendiri. Jadi, tanpa menelaahnya dengan pemikiran yang hebat dan wah, argumen itu bisa dimentahkan. Dengan logika sederhana saja sudah bisa dipatahkan.

Baca juga :   Pimpinan Houthi Tewas Oleh Serangan Udara Saudi

Itu sebabnya, bagi saya agama tetap perlu dibela. Sesuai anjuran para pemikir filsafat, maka di sini saya coba berpikir kritis, tak menerima begitu saja logika Haidar Bagir itu walau seolah tampak benar dan progresif kedengarannya. Terkait soal pembelaan agama, saya teringat sebuah buku karangan (Alm) Kuntowijoyo, pemikir Islam yang saya kagumi. Dalam buku karangannya yang berjudul “Paradigma Islam, Interpretasi untuk Aksi” saya membaca bagian menarik. Khususnya bab “Cita-cita Transformasi Islam”.