Beranda Berita Caleg Koruptor Bisa Ikut Pemilu, Ini Tanggapan MUI

Caleg Koruptor Bisa Ikut Pemilu, Ini Tanggapan MUI

BERBAGI
Ilustrasi

Jakarta, Ahad.co.id- Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Zainut Tauhid Sa’adi mengatakan kecewa atas putusan Mahkamah Agung (MA) yang mengabulkan uji materi Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) Nomor 20 Tahun 2018.

Pihaknya mengimbau masyarakat untuk cermat dalam memilih pemimpin khususnya calon anggota legislatif, agar tidak memilih yang memiliki sejarah kasus korupsi. Hal ini semata untuk menyelamatkan bangsa dari kehancuran dan bencana.

“MUI mendesak kepada DPR dan pemerintah agar segera melakukan perubahan UU 7/2017 tentang Pemilihan Umum, agar dalam perubahan tersebut memasukkan pengaturan tentang bakal calon anggota legislatif tidak boleh berasal dari mantan narapidana kasus korupsi,” katanya dalam pernyataan resmi yang diterima Ahad.co.id, Kamis (20/9/2018).

PKPU tersebut oleh MA dinyatakan bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum. Sebab, ada klausul dalam aturan KPU yang mensyaratkan bakal calon anggota legislatif tidak boleh berasal dari mantan narapidana kasus korupsi.

Dengan dibatalkannya PKPU tersebut otomatis partai politik bisa kembali mencalonkan mantan terpidana korupsi tersebut.

“Hal ini menunjukkan korupsi belum dianggap sebagai musuh bersama dan menjadi sinyalemen krisis yang bisa berakibat fatal bagi kehidupan bangsa Indonesia,” ujar Zainut.

Menurut Zainut, upaya memerangi korupsi seharusnya dimulai dengan lahirnya “rasa krisis” yaitu kesadaran jika korupsi tidak diberantas maka keberlangsungan negara menjadi ancaman serius.

Baca juga :   Rakyat Palestina Pesimis Akan Peran AS Dalam Perdamaian Timur Tengah

Seharusnya pemerintah dan rakyat Indonesia serius dalam menanggulangi kasus korupsi, tidak boleh setengah-setengah.

Baik dalam bentuk kebijakan maupun sikap dan tindakan. Dalam kebijakan misalnya, seharusnya hukuman untuk para koruptor itu harus bisa menciptakan efek jera, baik dari segi lama hukuman, ganti rugi finansial maupun tambahan hukuman lainnya.

“Anehnya, kenyataan sosial pun menunjukkan “rasa krisis” atas bahaya korupsi belum melekat dalam benak masyarakat” ucapnya.

Dia mencontohkan, masih banyak masyarakat yang memberikan apresiasi dan dukungan terhadap tokoh koruptor.

Bahkan ada beberapa politikus yang terbukti melakukan tindakan korupsi masih dicalonkan kembali oleh partai politik menjadi pemimpin daerah dan anggota legislatif.

Hebatnya mereka diterima dengan tangan terbuka untuk kembali berkiprah di arena politik dan menempati jabatan struktural partai yang cukup strategis.

Daniel Amrullah