Beranda Ekonomi Dompet Dhuafa Bergerak Tangani Darurat Gizi Buruk di Maluku Tengah

Dompet Dhuafa Bergerak Tangani Darurat Gizi Buruk di Maluku Tengah

BERBAGI

Jakarta, Ahad.co.id- Bencana kelaparan kembali melanda Tanah Air. Tiga warga suku Mausu Ane di pedalaman Pulau Seram, Kecamatan Seram Utara Timur Kobi, Kabupaten Maluku Tengah, menjadi korban. Ketiganya meninggal dunia karena gizi buruk yang disebabkan keterbatasan persediaan pangan di sana.

Kasus kelaparan di pedalaman Gunung Murkele juga merenggut nyawa satu korban lanjut usia dan dua balita. Melihat kondisi tersebut, Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan merespon cepat dengan menerjunkan Tim Kemanusiaan.

Tim pertama Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan telah bergerak menuju komunitas masyarakat Mausu Ane, dengan membawa logistik dan obat-obatan. Tim Kemanusiaan tersebut terdiri dari dokter, perawat, dan satu Koordinator Respon Kebencanaan.

Selanjutnya, tim Kemanusiaan Dompet Dhuafa pusat akan berangkat dari Makassar pada Jumat (27/7) siang, menuju ke Ambon.

Dijadwalkan pada hari Ahad (29/7), tim Kemanusiaan Dompet Dhuafa sudah bergabung dengan aparat TNI dari Korem 1502/Masohi, untuk bergerak menuju lokasi suku Mausu Ane, dan mendistribusikan sejumlah bantuan.

Setibanya di lokasi, tim kemanusiaan Dompet Dhuafa akan melakukan mapping area dengan berkoordinasi bersama perangkat pemerintah.

Selanjutnya menetapkan posko darurat untuk kebutuhan support logistik dan berbagai kebutuhannya. Kemudian akan melakukan eksplorasi daerah untuk memudahkan pemenuhan kebutuhan gizi dengan membawa produk pemberdayaan yang kaya protein hewani dan bergizi tinggi, seperti abon ikan.

Baca juga :   PKS Kecam Penembakan Imam Al Aqsa oleh Polisi Israel

Doni Marlan, selaku GM Pengembangan Jaringan Dompet Dhuafa Filantropi mengatakan bahwa tim respon cepat sudah diberangkatkan.

“Pertama tim Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan kami gerakkan untuk segera menangani kasus tersebut. Kebutuhan medis dan logistik menjadi bekal utama pada respon kali ini. Selanjutnya setelah mendapat update informasi dari lokasi, kami akan menyusun respon lanjutan dan mengirimkan tim kedua, dengan membawa bekal kebutuhan masyarakat di sana,” ungkap Doni Marlan dalam siaran pers.

Karena medan yang cukup sulit dan tidak dapat diakses kendaraan, Tim Kemanusiaan yang berasal dari beberapa unsur relawan tersebut, melanjutkan respon dengan berjalan kaki menuju lokasi. Estimasi waktu yang harus ditempuh adalah 8 jam perjalanan.

“Upaya distribusi bantuan logistik dan kesehatan tersebut diharapkan dapat mencukupi kebutuhan pangan masyarakat Mausu Ane, dan menekan jumlah korban jiwa, terutama dari kelompok rentan (wanita, lansia, dan anak-anak),” tutupnya.

Hasbi Syauqi