Beranda Headline Islam Konotasi

Islam Konotasi

BERBAGI

Oleh: Rasyid Yusuf
Penulis Lepas

Ahad.co.id- Makna konotasi secara umum berlaku pada teks-teks linguistik, Konotasi bisa kita jumpai pada banyak bidang, termasuk teks non linguistik. Setiap kata yang dipakai terus menerus pada konteks-konteks tertentu, dalam suasana yang khas, dan spesik, cenderung terjangkiti ‘virus’ konotasi. Berpijak dari konteks ini, saya bersikukuh bahwa konotasi itu selalu relatif, spesifik kontekstual. Bagi orang orang Indonesia Ferari (non linguistik teks) adalah mobil mewah, mobil orang kaya, tapi mungkin berbeda suasana bagi orang Dubai. Demikian dengan juga kata ‘Arab’ sulit menemukan makna denotasinya ketika diperbincangkan di warung angkringan sambil minum wedang jahe.

Publik kita akhir-akhir ini terganggu kesadarannya oleh frasa eksentrik yaitu Islam Arab, frasa ini mengganggu pikiran sebagian orang, mungkin banyak orang. Kata ‘Arab’ dalam frasa ini berfungsi tidak hanya sebagai modifier atau pewatas dalam kaidah kata majemuk bahasa Indonesia, tetapi jika meminjam teorinya compound kata ‘Arab’ melakukan tugasnya yang ‘pokok’ yaitu sebagai hiponim dari dari hipernim Islam. Artinya kesadaran pembaca mencerna bahwa frasa tersebut mengacu kepada sebuah tipologi. Dari kesadaran tipologi inilah yang membuat ‘kesadaran’ banyak orang itu menjadi ‘terganggu’. Seolah publik ingin protes, kok islam banyak macamnya? Lebih jauh kesadaran ini mengganggu kesadaran yang paling dalam, kesadaran teologi.

Pertanyaan berikutnya; dimana letak atau posisi keislaman saya? Jika ada Islam Arab, lalu saya Islam apa? Setiap orang memiliki leksikon ini dalam mental masing-masing, tetapi setiap orang bisa memiliki persepsi yang berbeda mengenai maknanya. Makna yang hadir dalam mental penutur pembaca tidak lagi makna denotasi awal yang steril, tetapi sudah pada makna konotasinya. Makna konotasi ini lahir dari pengetahuan dan pengalaman sang penutur pendengar saat kata tersebut secara spesifik mempengaruhi relasi stimulus – respon (kata dan acuan) pertama kali berkesan dan masuk pada mental kita.

Frasa Islam Arab seperti yang disampaikan oleh Kang SAS tidaklah bermakna denotasi, frasa ini mengacu kepada sesuatu yang spesifik. Yang dimaksud Kang SAS dengan kata ‘Arab’ adalah ‘wahabi’. Kata Arab memiliki makna konotasi sebagai wahabi. Secara keseluruhan Islam Arab adalah Islam Wahabi. Tidak hanya kata ‘arab’, kata wahabi juga memiliki konotasi sebagai; keras, intoleran, radikal, tidak suka kearifan lokal dll. Menurut Kang SAS Islam Arab sudah kehilangan banyak hal, kecuali teologinya, oleh Karena itu beliau mengenalkan Islam ‘lain’ yaitu; Islam Nusantara sebagai Anti Tesa dari Islam Arab atau Islam Wahabi.

Baca juga :   Peringati HUT RI, TNI Gelar Doa Bersama di Seluruh Satuan

Setidaknya Islam Nusantara memiliki dua hal, yaitu; ‘teologi’ dan ‘ahlak,’ yang terakhir ini tidak ada pada Islam Arab atau Islam Wahabi. Sialnya, leksikon ‘arab’ dalam pembaca lawan, dipersepsi secara berbeda (menurut pengetahuan dan pengalamannya masing-masing). Kata ‘arab’ dipahami atau memiliki konotasi sebagai ‘Islam otentik,’ atau ‘Islam yang lebih dekat kepada Nabi Saw,’ ‘Islam Awal atau Islam Asli.’ Jadi pada sebagian orang tidak terdapat titik temu (mutual knowledge), tidak terdapat kesamaan pandangan kecuali pada segelintir orang saja, dan masing-masing bertahan pada pesepsinya.

Barat faham betul akan efek konotasi, tidak hanya kata ‘Arab’ yang modifier (pewatas) yang berkonotasi, tetapi unsur hulu nya (head) yaitu kata ‘Islam’ juga memiliki konotasi. Sementara NU, Muhammadiyah dan ormas-ormas lain habis-habisan merawat dan membela Islam supaya berkesadaran dalam mental pembacanya sebagai Rahmatan Lilalamin, di tempat berbeda Islam di ‘exercise’ supaya menimbulkan efek dan dampak horor bagi pembaca pendengarnya, dengan memanipulasi berbagai peristiwa sebagai ‘signify’ dari referent-nya. Sehingga ketika mendengar kata ‘Islam’ yang terbersit adalah makna konotasinya yang ‘negatif’ bukan yang positif (rahmatan lil alamin).

Kata ‘Islam’ maupun kata ‘Arab’ sejatinya mampu menampilkan efek konotasi positif, semua tergantung kepada relasi penguasa sebagai produsen kebenaran di dalam memproduksi berbagai narasi dan kearifan publik sebagai konsumen pembeli narasi/kebenaran. Jika di tempat berbeda terorisme sudah menjadi Industri, sulit kiranya kata ‘Islam’ memiliki konotasi positif, kecuali penguasa dan kita terus menerus mempromosikan Islam dengan konotasi positif melalui ‘manipulasi’ acuan-acuan positif, tentu disertai kesadaran untuk melepaskan berbagai stigma buruk yang disandangkan pada leksikon Islam. Semuanya bisa kita awali dengan saling memaafkan, Insha Allah.