Beranda Headline Antara Menolong Sesama Muslim dengan I’tikaf

Antara Menolong Sesama Muslim dengan I’tikaf

BERBAGI

Oleh: Ibnu Khajar
Sekretaris Jenderal Masyarakat Relawan Indonesia (MRI)

Ahad.co.id- Alhamdulillah saat ini kita menjelang masuk dalam 10 hari terakhir di bulan Ramadhan. Saat-saat yang biasanya sangat ditunggu oleh kaum muslimin dalam berburu Lailatur Qadr, di mana setiap 10 hari terakhir di bulan ramadhan kaum Muslimin berbondong-bondong ke masjid-masjid untuk melakukan i’tikaf yang disunnahkan oleh Nabi SAW.

Selain itu saat-saat seperti ini juga selalu menjadi trending topik membahas berbagai hal tentang i’tikaf & berbagai keutamaannya.

Akan tetapi ternyata ada satu amalan yang jarang dibahas atau mungkin jarang diketahui, bahwa satu amalan tersebut ternyata pahalanya jauh lebih besar bahkan lebih utama dibandingkan dengan i’tikaf selama 10 tahun.
Amalan apakah itu?

Menolong dan membantu menyelesaikan masalah seorang saudara muslim. Itu merupakan perbuatan yang jauh lebih utama dalam pandangan syariah Islam, daripada sebuah ibadah ritual sunnah lainnya.

Seorang sahabat Nabi SAW yang bernama Abu Hurairah pernah suatu ketika hendak melakukan I’tikaf di masjid Nabawi di Madinah Al Munawwarah, namun di dalam masjid itu beliau melihat seseorang yang sedang duduk bersedih di pojok masjid. Sahabat Nabi itu segera mendatanginya dan menayakan perihal kesedihannya.

Setelah mengetahui masalahnya, Abu Hurairah RA berkata: “Ayo berdirilah bersamaku, aku akan memenuhi kebutuhanmu”. Orang itu berkata: “Apakah engkau akan meninggalkan I’tikafmu di masjid Rasul ini hanya demi aku?”.

Abu Hurairah kemudian menangis dan berkata: “Aku mendengar penghuni kubur ini (Rasulullah SAW) bersabda: “Sungguh berjalannya seseorang di antara kamu sekalian untuk memenuhi kebutuhan saudaranya hingga terpenuhi, lebih baik baginya daripada ber’tikaf di masjidku ini selama sepuluh tahun”. (HR. Muslim).

Subhanallah! Sungguh besar sekali nilainya. Padahal amal I’tikaf di masjid Nabawi di Madinah al Munawwarah nilainya sangat tinggi, yakni 10 ribu kali amalan beri’tikaf di masjid-masjid lain di seluruh dunia kecuali Masjidil Haram di kota Makkah yang nilainya 100 ribu kali lebih utama dibandingkan masjid lain, serta Masjidil Aqsha yang nilainya seribu kali dibandingkan dengan masjid-masjid yang lain secara umum.

Dengan perhitungan matematika sederhana, kita dapat memperkirakan bahwa menolong saudara sesama muslim yang sedang tertimpa bencana, mengentaskan problem-problem mereka dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka, termasuk mencarikan dana untuk membantu saudara-saudara yang membutuhkan bantuan kita nilainya bagi kita yang menolong adalah lebih baik dibandingkan bila kita beri’tikaf di masjid manapun di Indonesia ini selama 10 ribu kali 10 tahun alias 100 ribu tahun. Mampukah kita?

Baca juga :   Dewan Syariah Surakarta: Polisi Harus Jelaskan Sebab Kematian Jefri

Oleh karena itu, sudah selayaknya orang-orang yang biasa beri’tikaf dan beribadah di masjid-masjid juga tidak sampai melupakan amalan-amalan lain, khususnya dalam membantu saudara-saudara yang sedang terkena musibah atau sedang dalam kondisi kesulitan & teraniaya agar duka mereka berkurang bahkan sirna & terhibur, kebutuhan mereka hari ini tercukupi, dan masa depan mereka terjamin.

Tentu semua dikerjakan dengan ikhlas lilahi ta’ala, tanpa pamrih. Dan tentunya sesuai dengan kesanggupannya. Yang bisa hadir sebagai relawan hendaknya datang ke lokasi musibah mengerjakan apa saja yang bisa dikerjakan sesuai kesanggupan. Misalnya terlibat dalam berbagai aktifitas penghimpunan dana zakat,
infak & sedekah lainnya, membersihkan lingkungan, membuat dapur umum, merehabilitasi mental mereka yang mengalami trauma & depresi, mengajar anak-anak yang terlantar pendidikannya.

Tidak kalah pentingnya adalah mengisi mental kerohanian dengan pengajian-pengajian agar mereka bersabar dan kembali tegar menghadapi kehidupan selanjutnya.

Yang tidak mampu ke lokasi bisa membantu dengan menyumbangkan hartanya untuk memenuhi kebutuhan saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah, kesulitan & kesusahan hidup laimnya.

Ya, semua itu kita kerjakan lantaran keimanan kita kepada Allah SWT. Hanya balasan dari Allah SWT serta ridla-Nyalah yang kita harapkan. Nabi saw. mengabarkan dalam suatu riwayat: “Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya selama sang hamba itu senantiasa menolong saudaranya”.

Dalam riwayat lain Nabi SAW bersabda:

“Siapa saja yang berusaha memenuhi kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memenuhi kebutuhannya. Siapa saja yang menghilangkan kesusahan dari seorang muslim, maka dengan hal itu Allah akan menghilangkan salah satu kesusahannya di hari kiamat” (HR. Bukhari-Muslim).HR. Muslim).

Wallahua’lam bishshawab