Beranda Headline 20 Tahun “Prestasi” Reformasi dan Demokrasi

20 Tahun “Prestasi” Reformasi dan Demokrasi

BERBAGI
Pemimpin redaksi AHAD.CO.ID, Tjahja Gunawan Direja/Dokpri

Oleh: Tjahja Gunawan

Hari ini masing-masing orang bersaksi tentang apa yang terjadi pada 21 Mei 1998. Tapi bagi saya yang lebih penting adalah menjawab pertanyaan di bawah ini:

Saat terjadi kerusuhan sosial pada tanggal14 Mei 1998, mengapa Panglima ABRI kala itu Jend (TNI) Wiranto pergi ke Malang, Jawa Timur bersama para kepala staf angkatan?

Pimpinan tentara yang ada di Jakarta waktu itu hanya Danjen Kopassus dan Pangdam Jaya.

Yang jelas setelah serentetan aksi, tragedi dan peristiwa politik saat itu, akhirnya berujung pada proses pergantian pemimpin, dimana pada :

21 Mei 1998

Soeharto menyatakan berhenti dari jabatannya sebagai Presiden Republik Indonesia yang telah ia emban selama 32 tahun. Pidato pengunduran diri disampaikan di Istana Negara pada pukul 09.00 WIB. Kemudian Wakil Presiden B.J. Habibie langsung disumpah sebagai Presiden saat itu juga. Sejak hari itu, Indonesia memasuki era baru.

Awalnya bergulirnya reformasi dan proses demokratisasi sejak 1998, menimbulkan harapan besar masyarakat segera tercapainya keamanan dan kemakmuran.

Besarnya harapan tersebut dapat dimaklumi karena tiga hal yang menyertai aura masyarakat waktu itu, yakni:

1. Kaum reformis atau prodemokrasi mengkampanyekan bahwa keterpurukan bangsa Indonesia termasuk krisis moneter ketika itu antara lain karena sistem politik yang otoriter di Masa rezim Orde Baru (Orba).

Baca juga :   Ketum GNPF Ulama: Umat yang Jaga Shalat Mudah Menjaga Negara

2. Karena Indonesia telah menjadi bagian dari masyarakat demokrasi dunia, maka negara-negara demokrasi yang kaya akan membantu kesulitan-kesulitan yang dihadapi Indonesia baik dengan mendorong arus investasi baik berupa foreign direct investment (FDI) atau investasi asing langsung maupun investasi melalui portofolio di pasar modal (capital market) dan pasar uang (money market). Selain itu melalui bantuan luar negeri lainnya yang bersifat lunak (soft loan). Semua harapan itu kemudian diejawantahkan melalui nota kesepakatan dg Dana Moneter International (Letter of Intent- LoI IMF).

3. Terselenggaranya pemilu yang bebas akan menghasilkan pemerintahan yang legitimate sehingga mampu mengatasi permasalahan-permasalahan yang dihadapi bangsa ini.

Namnun setelah 20 tahun melaksanakan proses demokratisasi dan reformasi, harapan tersebut jauh dari kenyataan.

Bahkan yang terjadi sekarang adalah kekhawatiran terjadinya disintegrasi bangsa dan kemunduran di berbagai bidang.

Semoga Allah SWT melindungi Bangsa Indonesia. Aamiin.