Beranda Headline Kekerasan Simbolik dalam Identitas Arab

Kekerasan Simbolik dalam Identitas Arab

BERBAGI

Oleh: Rasyid Yusuf
Penulis Lepas

Ahad.co.id- Setiap orang, kelompok, budaya, maupun agama seringkali akan mengidentifikasikan dirinya melalui lambang-lambang yang khas. Lambang-lambang ini kemudian berfungsi sebagai alat komunikasi, diri maupun kelompok yang berhadap-hadapan secara langusng dengan lingkungannya. Identitas begitu penting bagi siapapun sehingga identitas menjadi bagian yang melekat dalam diri maupun kelompok begitu meruhani tanpa disadari oleh pemeluknya.

Setiap diri maupun kelompok selalu mengekpresikan identitasnya ini melalui saluran budaya yang telah melekat dalam kehidupan keseharian. Begitu umumnya sehingga si pemeluknya lupa tentang atribut-atribut diri maupun kelompok yang hadir memenuhi ruang nafas dan gerak hidupnya. Keyakinan, dalam hal ini agama merupakan aspek fundamental dalam kehidupan manusia. Hampir setiap orang mengekpresikan dirinya melalui dan dalam identitas keagamaan, mulai dari tutur kata, berpakaian, beritual, bekerja, berbangsa dan bernegara tidak lepas dari identitas diri maupun kelompok.

Setiap dari orang dan kelompok bangga dengan identitasnya, tidaklah mengherankan suporter sebuah kesebelasan sepak bola akan mengidentifikasi diri dan kelompoknya dengan atribut-atribut ‘kebangsaannya,’ mulai dari warna yang dipakai, syal, kaos, bendera dll., rela mereka pakai, tentu dengan kesadaran akan resikonya, seperti dilempar suporter lawan di tengah jalan misalnya. Demikian juga dengan sekelompok masyarakat atau bangsa pula kita temui mengidentifikasinya diri atau kelompoknya melalui identitas keagamaan, identitas keislaman, identitas ‘keshalihan’ dan dalam kasus tertentu identitas kearaban.

Pemeluk identitas ini merasa bangga dan bahkan merasa perlu untuk melekatkan identitas tersebut pada dirinya supaya ia bisa mengkomunikasikan pada orang lain bahwa ia adalah bagian dari kelompok identitas tersebut. Di dalam komunikasi identitas kemudian berubah fungsinya menjadi simbol. Tak terkecuali orang-orang yang tinggal di tanah Jawa sebagai ‘pemuja’ simbol, jika ditelisik secara seksama, ternyata hampir semua manusia menyukai simbol di berbagai tempat dan zaman. Simbol-simbol ini bisa kita dapati dalam setiap aspek hidup, mulai dari aspek bunyi tataran terkecil sampai pada tataran yang paling tinggi yaitu identitas diri, kelompok, budaya maupun agama.

Simbol yang mewujud dalam identitas ini adalah bagian yang absah untuk fungsi komunikasi, yang secara alami fungsi asalnya dipegang teguh oleh simbol-simbol bahasa yang mewujudkan dirinya dalam bentuk ujaran maupun tulisan. Untuk tujuan yang lebih besar identitas menjadi simbol yang paling penting dan efektif di dalam mengkomunikasikan sebuah pesan dibanding dengan simbol-simbol linguistik.

Simbol-simbol (Tanda-tanda) ‘keagamaan,’ atau simbol keshalihan jauh lebih digandrungi politikus ketimbang simbol-simbol linguistik. Tidak mengherankan orang yang paling sekuler pun, merasa perlu untuk memakai kopiah (identitas Islam Jawa bukan Arab), sorban atau ber’hijab’ menjelang pilkada di tahun politik, terlebih mereka yang memiliki rekam jejak memusuhi agama dan ulama. Bahasa dalam hal ini lambang-lambang linguistik atau simbol-simbol bahasa dirasa tidak bisa memberikan pesan yang efektif dan tepat sasaran di dalam menyampaikan pesan yang diharapkan si penutur. Alih-alih tepat sasaran bahkan boleh jadi si penutur akan memperoleh reaksi publik yang tidak diharapkan, menjadi blunder misalnya.

Berbagai peristiwa di tanah air terus bergulir, mulai dari hijaber penyayang binatang (anjing) sampai kasus kekerasan yang paling tinggi, bom bunuh diri yang meledak di Gereja. Berbagai peristiwa ini sama sekali tidaklah menguntungkan orang Islam terlebih agama Islam. Justru Islam sebagai agama mendapat diskredit dari berbagai peristiwa tersebut, sementara petugas polisi yang sedang menjalankan tugasnya memperoleh kredit dari peristiwa ini. Kredit diperoleh karena mereka polisi menjadi korban, khususnya untuk kasus mako brimob, sementara kredit lain diperoleh polisi karena mereka berhasil mengendalikan keamanan, terutama sekali ketika petugas memberi makan dengan sangat humanis, memberikan suapan makan langsung kepada ‘teroris’ (terduga teroris).

Yang terakhir ini yaitu menyuapi sang teroris makan merupakan kredit poin yang paling besar, dan kredit ini bisa menebus diskredit-diskredit perbuatan petugas terhadap pelaku teroris di masa lampau yang digambarkan sebagai arogan dan tidak manusia. Dengan peristiwa ini ‘sejarah kelam’ hubungan polisi dalam hal ini diwakili densus 88 vs teroris terhapus dengan sangat baik. Seandainya ini sebuah cerita kita menyebutnya sebagai drama yang happy ending. Pesannya moralnya negara mengalahkan kejahatan dan kekerasan melalui pendekatan humanis.

Baca juga :   FORKAJI Mengatasnamakan Warga Dolly Tuntut Pemkot Surabaya Rp. 270 Milyar

Terorisme dengan segala bentuk tindakannya hadir dengan identitas yang sangat jelas. Terdapat berbagai atribut yang menjadi identitas dari si pelaku teroris. Atribut-atribut ini kemudian menjadi simbol yang menyampaikan pesan akan nilai-nilai dari atribut tersebut. Atribut-atribut ini muncul misalnya dengan warna hitam yang melekat pada pakaian atau pada bendera, dan hitam melambangkan warna dari Islam disamping putih dan hijau.

Atribut lain yang melekat pada pelaku teroris adalah corak pakaian, corak-corak tertentu merupakan lambang identitas Islam, misalnya celana cingkrang, berhijab, bercadar. Atribut lain bisa kita dapati adalah apa yang melekat pada tubuh misalnya memelihara jenggot, sesekali berdahi hitam (bekas sujud). Seluruh atribut ini menjadi identitas yang khas, yaitu identitas pelaku kekerasan, jika didengungkan terus menerus melalui praktik ‘drama’ perlawanan terhadap petugas negara atau meledakkan diri di tempat-tempat ibadah non muslim, maka status dari nilai identitas ini akan naik satu tingkat menjadi teroris.

Teroris tidak hanya menjadi kata pejoratif tetapi kemudian, juga menjadi stigma yang diberikan atau melekat ke dalam agama Islam. Akibatnya, dalam beberapa kasus, pemakai cadar menjadi tidak nyaman ketika mereka harus masuk ke sebuah supermarket yang kebetulan ber-SOP, atau beberapa orang hijaber dengan cadarnya dimaki-dimaki pengendera motor atau seorang pejalan kaki yang lewat dengan memakinya atau memperlakukannya sebagai ‘teroris.’ Dalam kasus berbeda, pemakai celana cingkrang juga tidak merasa nyaman ketika mereka harus beraktifitas di ruang publik, karena celana cingkrang identitas dari kaum ‘radikal.’ Pedihnya, stigma ini diujarkan oleh saudaranya sendiri, muslim yang berbeda ormas.

Seluruh identitas ini secara historis dipersepsikan sebagai produk ‘nilai-nilai impor’ dari budaya Arab dan bukan sebagai berbagi (sharing) dari nilai-nilai wahyu yang harus dibumikan, yang oleh karenanya identitas-identias Arab yang ‘impor’ dan tentu tidak berasal dari budaya lokal ini layak untuk diserang habis ‘bumihanguskan,’ secara kultural melalui kata-kata pejoratif seperti; poligami, intoleran, wahabi, radikal, teroris, dll., maupun secara struktural melalui hadirnya kekuatan asing di dalam negeri yang menjelma dalam bentuk media masa, bantuan modal, kerja sama dll.

Pemberian stigma adalah bentuk kekerasan, lebih tepatnya kekerasan tanda atau lebih populer kita sebut sebagai kekerasan simbolik. Kekerasan simbolik jauh lebih membekas ketimbang kekerasan fisik karena predikatnya melekat dan menubuh pada si penderita. Stigma yang sama bisa dirasakan oleh mereka yang kebetulan menjadi anak koruptor. Kekerasan simbolik bisa dimaknai sebagai ‘upaya aktor-aktor sosial dominan menerapkan suatu makna sosial yang alami dan absah, lalu diinternalisasikan kepada aktor-aktor lain dan dianggap benar oleh aktor lain tersebut’ atau ‘mekanisme komunikasi yang ditandai dengan relasi kekuasaan yang timpang dan hegemonik dimana pihak yang satu memandang dirinya lebih tinggi baik itu dari segi kedudukan, usia atau jenis kelamin,’ dan atau ‘tindakan kekerasan yang tak terlihat atau kekerasan struktural dan kultural dalam beberapa kasus dapat pula merupakan fenomena dalam penciptaaan stigmatisasi.

‘Pemberian stigma ini baik berlangsung secara alamiah atau pun misalnya melalui rekayasa politik sangatlah tidak menguntungkan bagi Islam dan umat Islam. Pada akhirnya, stigma yang melekat dalam berbagai identitas Arab sebagai ‘yang menghasilkan’ Islam berpotensi memperburuk hubungan antara Islam dengan Islam, Islam dengan non muslim, memecah belah, merobek sendi-sendi kebhinekaan dan juga bisa menghambat pembangunan bangsa dan negara.