Beranda Headline Serial Ziarah Jejak Rasul: Kisah Pengantar dari Oman

Serial Ziarah Jejak Rasul: Kisah Pengantar dari Oman

BERBAGI
Masjid Agung Sultan Qaboos, Oman. Foto: Tjahja Gunawan

Pemimpin Redaksi Ahad.co.id, Tjahja Gunawan, berkesempatan mengikuti ziarah Jejak Para Rasul. Perjalanan yang berlangsung tanggal 18-28 Februari 2018 ini, mengunjungi Negara Oman, Mesir, Palestina, dan Jordania.

Tujuan utama ziarah ini adalah mengunjungi dan salat di Masjid Al Aqsha di Palestina. Hasil perjalanan ini akan dituangkan dalam tulisan berseri.

Ahad.co.id- Hari Ahad malam (18/2/2018), pesawat Oman Air yang membawa 38 orang jamaah ziarah mendarat dengan sempurna di Bandara Oman, Muscat. Kami mendarat tepat jam 8 malam waktu setempat atau jam 11 malam waktu Indonesia Bagian Barat.

Saya bersama rombongan jamaah yang mengikuti ziarah Jejak Para Rasul melintasi tiga negara yakni Mesir, Palestina dan Jordania.

Para jamaah ini terdiri dari perorangan, keluarga dan beberapa pengelola biro travel. Mereka berasal dari berbagai daerah seperti Bandung, Tangerang, Jakarta, Cirebon dan Surabaya.

Setelah menginap semalam di Oman, kami melanjutkan perjalanan ke Mesir. Namun, sebelum berangkat ke Bandara, rombongan berkesempatan mengunjungi sejumlah obyek wisata di Oman, Negara yang terbilang maju di kawasan Timur Tengah.

Salah satu tujuan wisata yang banyak dikunjungi turis mancanegara adalah Mesjid Agung Sultan Qaboos. Masjid Agung yang terletak di Muskat Oman ini, diresmikan oleh Sultan Qaboos tahun 2001.

Pada tahun 1992, Sultan Qaboos secara resmi memerintahkan pembangunan sebuah masjid agung untuk kesultanan Oman. Setahun kemudian dibuat rancang bangun masjid agung ini sekaligus menentukan lokasinya. Akhirnya lokasi masjid ditetapkan di Bausher dan proses pembangunan masjid Agung di Kesultanan Oman dimulai tahun 1995.

Baca juga :   MUI Tak Diajak Bicara Soal Pemotongan Gaji ASN untuk Zakat

Pekerjaan pembangunan Masjid Agung Sultan Al Qaboos dilaksanakan oleh Carillion Alawi LLC selama enam tahun empat bulan dan diresmikan oleh Sultan Qaboos tanggal 4 Mei 2001.

Keseluruhan proses pembangunan masjid ini menghabiskan 300 ribu ton batu pasir merah dari India. Sedangkan ruang salat utamanya berbentuk bujur sangkar berukuran 74,4 meter x 74,4 meter.

Sementara itu kubah besarnya setinggi 50 meter dari permukaan lantai. Selain kubah besar di bangunan utama, masjid ini juga dlengkapi dengan sebuah menara utama setinggi 90 meter serta diapit oleh empat menara yang lebih kecil masing masing setinggi 45,5 meter yang menjadi fitur utama bangunan masjid ini.

Masjid Agung Sultan Qaboos, sempat mendapat rekor dunia sebagai masjid dengan karpet buatan tangan terbesar di dunia.

Rekor ini merupakan terbesar kedua dunia setelah Masjid Agung Sheikh Zayed di kota Abu Dhabi, Uni Emirat Arab yang diresmikan tahun 2007.

Nantikan kelanjutan kisah perjalanan Tjahja Gunawan di Serial Jejak Rasul berikutnya.