Beranda Syiar Ponpes eLKISI, Mendidik Santri Mandiri

Ponpes eLKISI, Mendidik Santri Mandiri

BERBAGI
Ponpes eLKISI/dokumentasi Tjahja Gunawan

Mojokerto, AHAD.CO.ID- Menjelang akhir tahun 2017, kami bertiga, penulis, Ust Nurbowo dan Ust Fathur Rohman berangkat ke Bangladesh. Kami sama-sama menjadi sukarelawan Dewan Dakwah Indonesia, membantu menyalurkan bantuan untuk pengungsi Rohingya Myanmar.

Nah, awal Maret 2018, kami bertiga bertemu kembali. Tapi kali ini di Pondok Pesantren Islamic Center eLKISI di Mojokerto, Jawa Timur. Kami silaturahmi sambil reuni. Sewaktu di Bangladesh, Ust Fathur Rohman tidak banyak bercerita tentang Ponpes eLKISI. Namun begitu saya datang ke Mojokerto, ternyata sudah banyak kegiatan sosial dan edukasi yang telah dilakukannya. Ponpes adalah salah satu bagian dari perjalanan Dakwah yang sudah dilakukan Ust Fathur Rohman dalam 25 tahun terakhir ini.

Kegiatan dakwah yang banyak dilakukan Ust Fathur Rohman, bukan hanya aktivitas ceramah di mimbar mesjid. Tapi justru yang dilakukannya adalah berbaur langsung dengan masyarakat, sama-sama ikut bertani di sawah, bersama membangun rumah dan mushola penduduk setempat. “Dulu, sewaktu saya dikirim Dewan Dakwah Indonesia ke Banyuwangi Selatan, selama enam bulan saya ikut bercocok tanam bersama masyarakat. Tidak langsung berbicara di Mesjid,” kenang Fathur Rohman.

Ponpes eLKISI yang dipimpin Ust Fathur Rohman adalah milik umat dan untuk umat. Meskipun baru berdiri sekitar delapan tahun lalu tapi perkembangannya maju pesat. Berdiri diatas lahan sekitar 9 hektar, Ponpes eLKISI berada ditengah kehidupan perkampungan yang sebelumnya kelam. Alhamdulillah, atas izin Allah SWT, setelah berdirinya Ponpes eLKISI, kini masyarakat di sekitarnya menjadi guyub dan ikut menjaga keberadaan Pondok. “Itu karena kita (Ponpes) tidak eksklusif tetapi berbaur dan membantu kebutuhan warga di sekitar Pondok,” kata Ust Fathur Rohman.

Sekarang jumlah santri dan santriwati di Ponpes eLKISI sekitar 500 orang. Program pendidikannya mulai dari PAUD, SD, SMP, dan SMA. Tahun ini, akan dibuka program pendidikan Akademi Dakwah dan Sekolah Tinggi Dakwah. Santri yg menginap di Ponpes adalah mereka yang mengikuti pendidikan SMP dan SMA.

Kurikulum pendidikan di Ponpes eLKISI sudah mengikuti diknas dan telah terakreditasi. Selain belajar tentang ilmu agama dan pengetahuan umum, para santri juga belajar berwirausaha sebagai bekal kehidupan mereka nanti. Oleh karenanya, para santri diberi pilihan banyak kegiatan ekstrakurikuler mulai dari kegiatan Paskibraka, Pramuka, hingga silat.

Aktivitas lainnya, belajar cara beternak lele, kambing, budidaya tanaman jamur, dan bercocok tanaman lainnya. Keterampilan lain yang diberikan di Ponpes eLKISI, antara lain cara membuat roti, dan membuat air mineral kemasan. Oleh karena itu, di Ponpes in juga sudah tersedia minimarket yang dikelola oleh Ponpes sendiri. Sehingga hampir semua kebutuhan santri, telah tersedia di minimarket.

Pendidikan utama di Ponpes eLKISI, mendidik para penyeru kebaikan (da’i) yang memiliki jiwa tangguh dan mandiri. Menurut Ust Fathur Rohman, sebagian besar santri bercita-cita menjadi pengusaha. Hanya sebagian kecil saja yang bercita-cita menjadi pegawai dan tentara.

Terkait dengan aspek pendidikan kemandirian hidup, pihak Ponpes mengeluarkan aturan yang melarang santri kelas 11 menerima kiriman uang dari orangtuanya. Mereka dilatih belajar hidup mandiri dengan bekerja dan berusaha dengan bekal keterampilan yang telah diberikan di Ponpes.

Baca juga :   Lindungi Generasi Muda dari Bahaya Liberalisme, ITJ Bekasi Gelar Workshop

Selain belajar Al Quran dan hadist secara intensif, para santri juga belajar ilmu pengetahuan umum secara mendalam. Perpustakaan di Ponpes eLKISI, sudah digital sehingga sebagian besar buku-buku disana sudah dilengkapi dengan barcode. Para santri yang akan membaca buku, cukup scan barcode di perpustakaan mereka sudah bisa membaca buku digital melalui tablet yang dibagikan pihak Ponpes.

Meski telah serba digital, namun para santri dilarang membawa dan menggunakan handphone selama berada di Ponpes. Sedangkan komunikasi santri dengan para orangtuanya, dilakukan melalui kunjungan yang telah diatur waktunya di Ponpes.

Suasana belajar disana cukup menyenangkan. Tidak belajar di kelas, tetapi juga di sejumlah gazebo yang dibangun diatas kolam dengan pemandangan alam sekitar pondok yang indah yakni berupa hamparan sawah dan pegunungan. Setiap memasuki bulan Romadhon, sebagia santri dikirim ke luar Jawa seperti ke Kalimantan dan Papua. Bermukim sebulan penuh disana. Bahkan ada yang dikirim ke Singalura. Mereka semuanya telah memiliki kemampuan untuk berdakwah.

“Usia mereka memang masih relatif muda, tapi para santri yang dikirim itu sudah tahfidz Quran dan hafal hadist-hadist tematik. Sementara di daerah terutama di luar Pulau Jawa, sangat membutuhkan da’i,” ungkap Fathur Rohman.

Para santri di Ponpes eLKISI, umumnya mendambakan bisa dikirim ke daerah untuk berdakwah. “Bagi mereka, itu merupakan tantangan kehidupan yang sebenarnya. Kita pihak Ponpes adakalanya hanya memberi uang saku sekedarnya saja. Misalnya, Kita cukup mengantar santri ke Tanjung Perak di Surabaya untuk naik kapal. Bagamaina nanti hidup selanjutnya, para santri tidak merasa gentar, selalu optimis dengan bekal keterampilan hidup yang telah mereka peroleh di pesantren,” tutur Fathur Rohman.

Bagi para santri yang hendak meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, pengurus Ponpes sudah menjalin kerjasama dengan berbagai lembaga pendidikan Islam di dalam dan luar negeri.

Dalam ujian terbuka hafalan hadist tematik, Ahad pekan lalu, dihadirkan penguji dari luar pesantren diantaranya seorang syeikh dari Libya. Setelah menguji dan menyaksikan langsung kualitas para santri di Ponpes eLKISI, syeikh membuka kesempatan kepada para alumni eLKISI untuk melanjutkan pendidikan di Libya.

Semoga para santri alumni eLKISI, bisa menjadi generasi penerus bangsa yang bertaqwa, berkualitas dan memiliki jiwa mandiri. Aamin yaa robbal alamiin.

TJAHJA GUNAWAN