Beranda Berita Majelis Hukum dan HAM Muhammadiyah Minta Polisi Ungkap Dalang Penganiayaan Ulama

Majelis Hukum dan HAM Muhammadiyah Minta Polisi Ungkap Dalang Penganiayaan Ulama

BERBAGI
Komisioner Komnas HAM, Maneger Nasution/Ist

Jakarta, AHAD.CO.ID- Terus terulangnya peristiwa penganiayaan kepada ulama membuat Wakil Ketua Majelis Hukum dan HAM PP Muhammadiyah, Maneger Nasution berang.

Menurutnya Polri perlu melakukan investigasi terhadap kebenaran peristiwa itu dan menyampaikan hasilnya secara transparan kepada publik.

“Sulit untuk membantah adanya dugaan kuat dari publik bahwa rentetan peristiwa-peristiwa terakhir ini bernuansa skenario adudomba antar umat beragama,” kata dia kepada Ahad.co.id, Senin (19/2/2018).

Lebih lanjut dia menjelaskan, sulit untuk memahami bahwa peristiwa-peristiwa ini merupakan kriminal murni.

“Apakah rangkaian peristiwa-peristiwa itu sebagai pengalihan isu? Atau, apakah sedang berlangsung skenario paling sensitif, proyek adu domba intra dan antar umat beragama?,” katanya komisiner komnas HAM 2012-2017 itu.

Untuk itu dia mendesak pemerintah untuk menghentikan perilaku tak beradab itu. Negara menurutnya punya mandat mengusut tuntas kasus-kasus itu siapa pun pelaku dan aktor intelektualnya, serta apa pun motifnya.

“Kehadiran pemerintah sangat penting untuk menjawab pertanyaan publik: apakah peristiwa-peristiwa itu sebagai peternakan “OGGB” (orang gila gaya baru)? Apakah kasus-kasus itu sebagai laboratorium adu domba umat beragama di Indonesia? Sekali lagi kita berharap bahwa hal itu tidak bebar adanya,” kata dia.

Baca juga :   Wujudkan Persatuan Umat, UBN Gandeng Pagar Nusa

Melihat kembali berulangnya kasus dengan pola dan modus yang relatif sama, “OGGB”, dia meminta Polisi sebaiknya tidak tergesa-gesa menyimpulkan pelakunya sebagai “orang gila”.

“Polisi perlu mengurai secara profesional dan mandiri apakah kasus-kasus tersebut murni pidana? Atau, by design?,” ujar Maneger.

Publik menurutnya berharap, meskipun pelakunya disebut diduga “sakit jiwa”, tapi proses hukum harus tetap berjalan, tidak boleh berhenti, apalagi sudah jatuh korban nyawa.

“Biarlah pengadilan, berdasarkan fakta-fakta medis dan fakta hukum lainnya di persidangan yang punya otoritas memutuskan apakah para pelaku penganiayaan ini benar-benar “sikat jiwa” atau tidak,” pungkasnya.

Sebelumnya kasus penganiayaan terhadap tokoh agama kembali terjadi, terakhir di Lamongan. Pada Ahad (18/2/2018) pukul 11.45 WIB, telah terjadi penyerangan ‘orang gila’ ke Pengasuh Ponpes Muhammadiyah Karangasem, Paciran Lamongan, KH Hakam Mubarok., Lc.

BENY APRIUS