Beranda Gaya Hidup Kisah Penjaga Pintu Perbatasan Indonesia-Papua Nugini

Kisah Penjaga Pintu Perbatasan Indonesia-Papua Nugini

BERBAGI

Merauke, AHAD.CO.ID– Namanya Iptu Ma’aruf, Kapolsek Distrik Sota, Kabupaten Merauke itu sudah sejak tahun 1993 ditempatkan dinas di Merauke, tepatnya di titik nol Indonesia. Sebagai titik nol Indonesia bagian timur, Distrik Sota berbatasan langsung dengan Papua Nugini.

“Bagi saya, bisa bertugas di sini tentunya indah sekali, luar biasa. Ya kalau spesialnya kami sering dikunjungi dari pusat, nah itu kami punya kesenangan sendiri, jadi walaupun jauh dari keramaian, tapi kami dikunjungi saudara-saudara dari seluruh Indonesia,” kata lelaki asal Magelang, Jawa Tengah itu saat berbincang dengan AHAD.CO.ID, Ahad (4/2/2018).

Menurutnya tugas sebagai penjaga perbatasan merupakan kebanggaan, “Saya baru sekali pulang kampung, enggak pernah dikunjungi keluarga, tapi yang mengunjungi warga dari seluruh Indonesia, nah itu yang menjadi kebanggaan kami,” imbuhnya.

Kapolsek Distrik Sota, Merauke, Iptu Ma’aruf (Foto: Beny Aprius/ahad.co.id)

Cerita lain datang dari Sersan Agustinus Nenop, dia baru saja ditempatkan di Koramil Sota. Menurutnya ada kendala bahasa dengan masyarakat Papua Nugini jika melintas di perbatasan. “Masyarakat Papua Nugini lebih banyak menggunakan Bahasa Inggris,” ungkapnya.

Berdasarkan pengamatan AHAD.CO.ID, banyak masyarakat Indonesia berkunjung untuk melintas ke Papua Nugini atau sekadar berfoto di tugu perbatasan tersebut. Banyak komoditas yang diperjual belikan lintas negara seperti ikan, daging dan sembako. Baik warga Merauke maupun warga Papua Nugini saling berhubungan dalam banyak hal. Terdapat pasar rakyat di dekat Tugu kembar O KM Indonesia. Tugu kembar ini hanya terdapat di Sabang, Aceh dan di Sota, Merauke.

Baca juga :   Paul Pogba Mulai Bulan Ramadhan dengan Umrah

Distrik Sota berjarak sekitar 70 KM pusat Kabupaten Merauke ditempuh sekitar 1,5 jam perjalanan menggunakan kendaraan roda empat, dengan jalanan tergolong bagus.

Menurut para penjaga perbatasan, di distrik Sota sesekali memang terjadi perselisihan antar warga, namun masih dapat dikendalikan dan diselesaikan oleh hukum adat dan aparat keamaanan. Nyaris tak ada ancaman keamanan yang berarti.

“Penyeberangan tapal batas selama ini aman dan lancar. Mereka membawa dokumennya resmi, di sini kan masih lintas batas tradisional, jadi mereka menggunakan border pass, jadi bukan passpor, passpor belum berlaku di sini,” kata Iptu Ma’aruf.

Bahkan ketika ditanya saat pensiun nantinya, Iptu Ma’aruf mengatakan “saya tetap mau di Papua, mau mengabdi disini, jadi orang Papua di Sota.”

BENY APRIUS | DANIEL AMRULLAH