Beranda Mimbar Terima Kasih “Yang Mulia”

Terima Kasih “Yang Mulia”

BERBAGI
Komisioner Komnas HAM, Maneger Nasution/Ist

Oleh Maneger Nasution

Direktur Pusdikham Uhamka, Wakil Ketua Majelis Hukum dan HAM PP Muhammadiyah, dan Komisioner Komnas HAM 2012-2017

AHAD.CO.ID- Terima kasih ‘Yang Mulia’. Karena belum kemunduranmu, ingatan publik kembali menjemput sesuatu yang paling mahal dan mungkin sudah hilang di negeri ini, rasa dan perasa malu serta akhlak mulia.

Terima kasih ‘Yang Mulia’. Karena belum kemunduranmu, publik tersadar bahwa di atas hukum ada moral, akhlak mulia. Pelanggar hukum bisa jadi kehilangan kemerdekaan fisik, psikis, dan sosial. Tapi, pelanggar moral boleh jadi akan kehilangan segalanya, kemerdekaan fisik, psikis, dan sosial, bahkan kehilangan harga diri dan kehormatan sekaligus.

Terima kasih ‘Yang Mulia’. Karena belum kemunduranmu, memori publik kembali terhadirkan tentang arti penting memilih pemimpin. Publik kembali tersadar bahwa pemimpin itu tidak memadai hanya pintar, tapi juga sejatinya berintegritas dan berakhlak mulia.

Terima kasih ‘Yang Mulia’. Karena belum kemunduranmu, publik kembali siuman moral. Profesi mulia ternyata harus dibuhul akhlak mulia. Lembaga mulia harus dipimpin imam berakhlak mulia.

Terima kasih ‘Yang Mulia’. Karena belum kemunduranmu, publik pencinta bola pun tersadar kenapa ada kartu dalam persepakbolaan. Pelanggar dengan tingkat kesalahan tertentu diganjar dengan kartu kuning ke-1. Kalau melanggar lagi dihadiahi kartu kuning ke-2 dan diakumulasi sebagai kartu merah.

Terima kasih ‘Yang Mulia’. Karena belum kemunduranmu, publik tersadar betapa pentingnya sikap kesatriaan seorang pemimpin para ‘Yang Mulia’. Seorang pemimpin para ‘Yang Mulia’ mensyarat-rukunkan sikap gentlemen, mengakui kesalahan, dan dengan tulus menyampaikan permohonan maaf kepada publik.

Terima kasih ‘Yang Mulia’. Karena belum kemunduranmu, publik tersadar pentingnya seorang pemimpin yang punya rasa dan perasa malu. Dengan rasa dan perasa itu, ia akan berani mengundurkan diri ketika melanggar hukum, apalagi menabrak moral dan akhlak mulia.

Terima kasih ‘Yang Mulia’. Karena belum kemunduranmu, sependek pengetahuan publik, kalau tidak keliru, ‘Yang Mulia’ sudah memiliki dua kartu kuning. Kartu kuning pertama sanksi Dewan Etik tentang _katebelece_ ke pejabat kejaksaan. Kartu kuning kedua sanksi Dewan Etik tentang pertemuan dengan anggota Komisi III DPR di sebuah hotel di Jalan Sudirman, Jakarta. Pertemuan itu jelang _fit and propert test_ di DPR.

Baca juga :   Sejarah Panjat Pinang dan Persatuan Kita yang Centang Perenang

Terima kasih ‘Yang Mulia’. Karena belum kemunduranmu, publik jaman _now,_ di tengah bayang-bayang budaya permisif, ternyata masih memiliki sensitifitas soal moral dan akhlak mulia. Publik sungguh-sungguh khawatir, tidak rela, lembaga yang lahir dari rahim reformasi, digawangi 9 dewa ‘Yang Mulia’, yang keputusannya _final and binding,_ tidak ada yang bisa interupsi dan mengoreksi, kemudian akan mengalami defisit moral, sulit mengundang kepercayaan publik, akhirnya kehilangan marwah.

Terima kasih ‘Yang Mulia’. Sekira publik boleh mengingatkan pesan pesan kitab suci. Dalam pesan suci keagamaan, jika seorang imam batal wudlu dalam memimpin shalat berjama’ah, ia dengan rela mengundurkan diri sebagai imam, bahkan meninggalkan barisan jama’ah untuk membersihkan diri. Tetapi shalat berjama’ah tidak boleh bubar, makmum terbaik akan mengambil tanggung jawab melanjutkan prosesi shalat berjama’ah. Merskipun ‘Yang Mulia’ mungkin berpandangan tidak bisa dianalogikan dengan pesan keagamaan itu. Semua terpulang pada akal sehat dan ketajaman nurani ‘Yang Mulia’.

Terima kasih ‘Yang Mulia’. Akhirnya, teriring do’a tulus dari kami yang pernah memanggil ‘Yang Mulia’ ketika menjadi saksi ahli dipersidanganmu. Semoga ‘Yang Mulia’ husnul khatimah. Âmîn.

Depok, 28 Januari 2018