Beranda Berita Kongres Al Quds di London Tolak Keputusan Trump

Kongres Al Quds di London Tolak Keputusan Trump

BERBAGI

London, AHAD.CO.ID- Sebuah kongres seputar al-Quds digelar di ibukota Inggris, London, Sabtu (27/1/2018). Kongres ini disponsori oleh Organisasi Sahabat al-Aqsha. Diikuti oleh banyak para ulama.

Kongres digelar setelah peluncuran kampanye tanda tangan lebih dari 3 ulama dan aktivis untuk petisi yang mengecam deklarasi Presiden Amerika Donlad Trump yang mengakui al-Quds sebagai ibukota penjajah Zionis Israel dan pemindahan kedubes Amerika dari Tel Aviv ke al-Quds atau Yerusalem. Kongres menegaskan pentingnya al-Quds dan al-Quds bagi kaum muslimin.

Para peserta kongres menyetujui petisi ini dan meminta para pemimpin Palestina dan Arab mengetahui bentul ungensi dan pentingnya al-Quds bagi kaum muslimin di seluruh dunia.

Petisi ini mengingatkan kepada para pemimpin Arab bahwa tidak ada yang berhak untuk melepaskan al-Quds. Karena pentingnya al-Quds bagi Islam dan kaum muslimin. Petisi ini juga mengingatkan bahwa ancaman Amerika dengan menghentikan dukungan untuk pengungsi Palestina lewat UNRWA, tidak akan melemahkan mereka, karena al-Quds bukan untuk diperjual belikan.

Sementara itu pemerintah Trump terus menekan Palestina dengan senjata dana dan menambah masalah semakin kompleks dengan mengatakan status al-Quds sudah di luar meja perundingan setelah diakui sebagai ibukota bagi negara penjajah Zionis.

Baca juga :   Kiai Didin Tak Ingin Pesantren Terlibat Politik Praktis

Seperti dilaporkan kantor berita Aljazeera, aktivis perdamaian Silmi Yakub mengatakan, “Kongres ini untuk menyampaikan pesan kepada negara-negara barat yang intinya bahwa kaum muslimin tidak akan tinggal diam terhadap apa yang mengancam al-Quds.”

Sementara itu Ketua Organisasi Sahabat al-Aqsha di Inggris, Ismail Batil, mengatakan bahwa kemarahan atas “keputusan Trump” tidak hanya terbatas pada kaum muslimin saja, namun mayoritas negara dunia bersuasa menentang Amerika.

Dia menambahkan bahwa keputusan parlemen Zionis Knesset yang melarang merundingkan al-Quds kecuali atas persetujuan mayoritas anggota Knesset mengindikasikan bahwa Israel tidak punya perhatian untuk mewujudkan perdamaian dengan Palestina

PIP | DANIEL AMRULLAH