Beranda Berita Untuk Pertama Kali Pengungsi Suriah di Libanon Khawatir Hadapi Musim Dingin

Untuk Pertama Kali Pengungsi Suriah di Libanon Khawatir Hadapi Musim Dingin

BERBAGI

BEIRUT, AHAD.CO.ID – Untuk pertama kalinya sejak mereka melarikan diri dari Suriah lima tahun lalu, banyak pengungsi merasa takut tidak akan mampu melewati musim dingin di Libanon.

Seorang nenek berusia 97 tahun, Raya, bahkan harus mengemis sepotong makanan di lembah Bekaa agar dapat bertahan hidup. Dia dan anaknya, Khaldia (63) mengaku hampir tidak pernah makan sama sekali.

“Kami sampai harus meminta-minta kepada tetangga untuk mendapatkan makanan rebusan atau sayuran,” kata Khaldia yang tinggal di jalanan bersama ibunya.

Kondisi mereka sangat memprihatinkan. Tinggal di bawah atap tenda yang terbuat dari kayu dan potongan plastik dengan kondisi yang tentu saja bocor. Mereka tidak mampu menambalnya sebelum musim dingin tiba yang diperkirakan datang bersama badai salju.

Khaldia mengatakan, beberapa bulan terakhir ini merupakan masa-masa yang sangat berat bagi mereka dan para pengungsi lainnya.

Mereka terkadang tidur dengan kondisi perut yang kosong. Ibunya, kata Khaldia, membutuhkan uang untuk berobat, uang untuk menghangatkan badan, dan biaya sewa tenda.

“Kami memiliki utang yang sangat besar jumlahnya,” kata Khaldia.

Sebenarnya, Perserikatan Bangsa-bangsa mengalokasikan £20 atau sekitar Rp 364.000 setiap bulannya. Namun Raya dan Khaldia tidak menerima apa-apa lagi semenjak bulan Oktober 2017 silam.

Bahkan, anak lelaki Raya yakni Mohamad (67) dan istrinya yang tinggal di tenda yang sama dengan mereka tidak pernah menerima bantuan apapun dari PBB selama satu tahun terakhir.

Baca juga :   Bela Palestina, Anonymous Lancarkan Serangan "OpIsrael"

Untuk pertama kalinya sejak keluarga Raya meninggalkan Homs, sebuah kota di pinggiran Suriah, mereka kini merasakan takut tidak akan selamat dari terjangan musim dingin.

Seorang petugas di UNHCR mengatakan bahwa tahun 2017 merupakan tahun terberat yang dialami jutaan pengungsi Suriah yang mencari perlindungan ke Libanon.

Hampir 60% keluarga pengungsi Suriah tinggal dalam kondisi yang sangat miskin. Mereka hanya berpenghasilan £2 atau Rp 36.000 perharinya; sudah barang tentu tidak akan cukup untuk biaya kebutuhan mereka sehari-hari.

Laporan yang sama mengatakan, sebanyak 87% pengungsi terlibat utang-piutang. Kebanyakan dari mereka bersandar kepada bantuan yang terus menerus berkurang sejak peperangan meletus tujuh tahun silam.

“Terjadi keletihan di sini, dan persepsi yang mengatakan situasi kemanusiaan sangat statis, padahal tidak. Kami bahkan hanya menerima setengah dana dari yang kami butuhkan. Pengungsi Suriah di Libanon semakin miskin,” kata juru bicara UNHCR Scott Craig.

Pemerintah Libanon pada tahun 2015 memutuskan untuk menghentikan penerimaan pengungsi baru karena khawatir akan menyebabkan gesekan antara pengungsi dan warga.

THE TIMES | IKRIMAH