Beranda Headline Guru Hebat, Mendidik Generasi Milenial dengan Perspektif Ramah HAM

Guru Hebat, Mendidik Generasi Milenial dengan Perspektif Ramah HAM

BERBAGI
Dr. Maneger Nasution/Dokpri

Oleh: Dr. Maneger Nasution
Direktur Pusat Studi dan Pendidikan HAM Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA (Pusdikham Uhamka)

AHAD.CO.ID- Selamat Hari Guru 25 November 2017. Semoga guru Indonesia semakin profesional dan hebat dalam mendidik generasi millennial Indonesia.

Guru Indonesia sejatinya meningkatkan daya kreativitas dan inovasi sehingga mampu mendidik generasi milenial dalam perspektif sekolah ramah HAM.

Generasi milenial (millennial generations), menurut Psikolog, Ririn Sani, adalah generasi yang lahir dari tahun 1982-1994. Mereka adalah profil peserta didik era ini. Karakteristik dasar dari generasi ini, antara lain yaitu tech savvy, adalah seseorang yang sangat mengerti mengenai teknologi modern; juga group oriented yaitu yang sangat mementingkan pertemanan kelompok, sehingga mempunyai kecenderungan gampang terpengaruh; dan juga generasi yang menolak ide atau teori-teori yang menurut mereka sudah outdated.

Sekolah Ramah HAM (SR HAM) bertujuan menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman. Hal ini merupakan langkah nyata, penanaman nilai-nilai HAM di dunia pendidikan dengan metodologi rights based approach. Program ini mempunyai manfaat yang sangat baik untuk sekolah. Pertama, program ini menghasilkan pengajar yang punya kemampuan mengembangkan sebuah metode pengajaran, dan pembelajaran yang lebih inovatif, menciptakan suatu proses pembelajaran interaktif dan penerapan prinsip serta nilai dasar HAM.

Para pendidik akan mempunyai landasan untuk penerapan pendidikan yang berlandaskan nilai HAM. Tak cuma itu, pendidik akan memiliki wawasan-wawasan tambahan untuk menerapkan nilai HAM di sekolah/kampus.

Murid pun akan turut mendapat peningkatan pola pikir dan pemahaman baik terkait kewajiban asasi manusia (KAM) berupa tanggung jawab dan hak asasi manusia (HAM). Murid juga akan memiliki tingkat kepekaan dalam merespon masalah kelompok dan masyarakat. Sehingga, mereka peka terkait nilai-nilai HAM yang ada di lingkungan mereka. Murid pun berpartisipasi aktif dari aktivitas dan kebijakan sekolah.

Berangkat dari karakteristik tersebut, ada beberapa metodologi pembelajaran yang patut dipertimbangkan guru dalam mendidik para murid dari generasi milenial, yaitu:

Pertama, sekolah ramah keteladan/exemplary (SERADAN). Para guru sejatinya memberikan keteladan terlebih dahulu kepada para murid tentang prinsip-prinsip keberagamaan dan kemanusiaan berupa sipritualitas dan moralitas (spirituality and morality), tanggung jawab/kewajiban (KAM) dan hak (HAM) serta pemuliaan sesama ( dignity) dan pemuliaan lingkungan (environmental breeding). Generasi milenial cenderung akan lebih taat asas/aturan, apabila para guru tidak hanya memberi contoh tapi juga menjadi contoh. Para guru sebaiknya menjadikan diri mereka sebaga sumber inspirasi keimanan dan ketaqwaan serta akhlak mulia bagi para murid.

Baca juga :   Bukan Sri Mulyani, Tapi Neolibnya itu, loh..!

Kedua, rights based approach. Program sekolah ramah HAM (SERAHAM) ini mampu pula menghasilkan karakteristik yang baik. Ada beragam karakter yang terbangun dari program tersebut. Satu, suasana sekolah yang ramah dan saling memuliakan dalam kemajemukan, respect, martabat manusia, partisipasi antara sesama tanpa diskriminatif. Dua , pengembangan prinsip demokrasi serta rasa empti. Tiga, pemberdayaan murid, guru, tenaga kependidikan, dan warga sekolah lainnya untuk memiliki kesempatan terhadap partisipasi yang sama, lebih kreatif, hingga karakter bepikir kritis.

Ketiga, sekolah ramah penelitian/ research (SERALIT). Guru dituntut mencari tahu teknologi apa yang bisa dikaitkan atau dibawakan di kelas. Contoh, penggunaan power point dengan animasi dan lebih banyak variasi gambar. Apa yang lebih relevan dan nyaman bagi para murid sehingga pembelajaran lebih efektif. Dalam konteks ini ditekankan untuk melakukan riset terlebih dahulu metodologi apa yang paling tepat guna untuk para murid.

Keempat, sekolah ramah kemanfataan/relevance (SERAMAN). Dari komponen materi yang dibawakan, guru sejatinya mampu menjawab, apakah masih relevan dengan generasi yang sekarang. Apakah hal tersebut masih bermanfaat dan up to date.

Kelima, sekolah ramah relasi/ rapport (SERASI). Guru harus menyadari bahwa generasi milenial sangat mementingkan relasi. Kecenderungan ini ditunjukkan dengan adanya kesukaan untuk pertemanan secara berkelompok. Sehingga para murid akan senang dan merasa connect dengan guru apabila guru memiliki kesukaan yang sama dengan mereka.

Keenam, sekolah ramah tradisi berpikir logis/ rational (SERALO). Guru sejatinya memberikan penjelasan terlebih dahulu kepada para murid tentang garis besar dan tujuan dari tugas atau materi yang akan diberikan. Generasi milenial cenderung akan lebih mudah mengikuti ajakan guru, taat asas/aturan, apabila para guru memberukan ruang pada mereka dasar pemikiran rasional tentang pentingnya suatu tugas atau kebijakan tertentu.

Melalui substansi materi ini diharapkan para guru dapat berkomitmen terhadap murid dan terus berinovasi dalam melahirkan metodolgi pembelajaran khususnya kepada generasi milenial.

Jakarta, 25 November 2017