Beranda Syiar Al Irsyad Al Islamiyah: Kami Bukan Organisasi Warga Keturunan Arab

Al Irsyad Al Islamiyah: Kami Bukan Organisasi Warga Keturunan Arab

BERBAGI
Al Irsyad Al Islamiyah/Hidayatullah

Jakarta, AHAD.CO.ID- Perhimpunan Al-Irsyad Al-Islamiyyah (Jam’iyat al-Islah wal Irsyad al-Islamiyyah) menegaskan ormasnya bukan organisasi warga keturunan Arab. HAl itu untuk membantah anggapan bahwa hanya warga keturunan Arab saja yang boleh jadi anggota.

“Al-Irsyad adalah organisasi Islam nasional. Syarat keanggotaannya, seperti tercantum dalam Anggaran Dasar Al-Irsyad adalah: “Warga negara Republik Indonesia yang beragama Islam yang sudah dewasa.” Jadi tidak benar anggapan bahwa Al-Irsyad merupakan organisasi warga keturunan Arab,” tulis keterangan yang AHAD.CO.ID terima, Kamis (16/11).

Berdiri pada 6 September 1914 (15 Syawwal 1332 H). Tanggal itu mengacu pada pendirian Madrasah Al-Irsyad Al-Islamiyyah yang pertama, di Jakarta. Pengakuan hukumnya sendiri baru dikeluarkan pemerintah kolonial Belanda pada 11 Agustus 1915.

Tokoh sentral pendirian Al-Irsyad adalah al-‘Alamah Syeikh Ahmad Surkati, seorang ulama besar Mekkah yang berasal dari Sudan. Nama lengkap beliau adalah SYEIKH AHMAD BIN MUHAMMAD AS-SURKATI AL-ANSHARI. Silsilah keluarga beliau sampai ke Jabir bin Abdullah al-Anshari, salah satu sahabat terkemuka Rasulullah saw. dari kabilah Anshar yang banyak meriwayatkan hadits Nabi saw. Beliau adalah pembawa paham reformisme Islam di Indonesia, yang kemudian dikembangkan pula oleh KH Ahmad Dahlan yang mendirikan Muhammadiyah dan KH Zamzam yang mendirikan Persatuan Islam (Persis) bersama tokoh pentingnya, A. Hassan.

Perhimpunan Al-Irsyad Al-Islamiyyah, atau biasa dikenal dengan AL-IRSYAD, mengadakan Muktamar ke-40 di Kota Bogor pada 16-17 November 2017. Salah satu agenda penting Muktamar adalah penyusunan Amanat Program Al-Irsyad (program-program kerja strategis) di bidang pendidikan, dakwah, sosial dan ekonomi.

Bidang pendidikan merupakan bidang garap paling utama Al-Irsyad Al-Islamiyyah. Sebab, seperti dikatakan oleh pendiri Al-Irsyad yaitu Syekh Ahmad Surkati, “Al-Irsyad adalah pendidikan/pengajaran (at-ta’lim).” Maka hampir seluruh kegiatan Al-Irsyad berbasis pada lembaga pendidikan Al-Irsyad yang jumlahnya mencapai ratusan, dari TK sampai perguruan tinggi.

Ahmad Surkati dan seluruh aktifis Al-Irsyad meyakini bahwa pendidikan dan pengajaran adalah kunci tercapai dan terciptanya kemajuan peradaban manusia, maka Al-Irsyad Al-Islamiyyah berusaha terus memperbaiki mutu sekolah-sekolah Al-Irsyad di semua jenjang. Selama kepengurusan lalu sudah diadakan berbagai macam training untuk para pengelola dan guru sekolah-sekolah Al-Irsyad secara nasional, dan akan makin ditingkatkan jenis dan kuantitas training itu di periode kepengurusan mendatang.

Baca juga :   Daarul Qur’an Gelar Lomba Panah Nasional

Secara kuantitas Al-Irsyad juga akan mendirikan sekolah-sekolah baru di seluruh cabang yang ada dan di tempat-tempat yang sedang dijajaki untuk pembentukan cabang baru.

Di bidang dakwah, Muktamar akan merumuskan strategi dakwah sesuai jati diri Al-Irsyad sebagai organisasi pembaharu (reformis) dan moderat, yang jauh dari paham-paham kekerasan dan ekstrem.

Semangat reformisme adalah semangat untuk terus menampilkan tafsiran agama dan cara dakwah yang sesuai dengan zaman yang dihadapi, yang sedang mengalami perubahan yang sangat cepat akibat petumbuhan teknologi informasi. Perumusan strategi dakwah ini makin urgen dilakukan mengingat tertinggalnya dakwah Islam dalam menyikapi kemajuan zaman serta munculnya berbagai kelompok yang isi dan cara dakwahnya justeru gemar memperuncing perbedaan di kalangan umat.

Di bidang ekonomi, Muktamar akan merumuskan program-program pengembangan ekonomi keumatan, baik yang konvensional maupun yang berbasis IT. Pengembangan ekonomi umat ini semakin mendesak untuk dilakukan percepatan mengingat kondisi umat saat ini yang sangat jauh tertinggal di sektor bisnis dan ekonomi.

Di bidang sosial, Muktamar akan merumuskan program-program sosial untuk membantu masyarakat yang membutuhkan, serta terus menyiagakan unit bantuan cepat untuk membantu korban-korban bencana, seperti yang sudah dilakukan di Al-Irsyad waktu bencana tsunami di Aceh, gempa bumi di Padang dan Jogja, longsor di Banjarnegara dan tempat-tempat lain. Direncanakan pula agar setiap cabang memiliki minimal klinik-klinik kesehatan gratis untuk warga masyarakat di samping rumah sakit yang sudah ada di beberapa cabang.

DUDY S.TAKDIR