Beranda Berita PBB Sebut Operasi Militer di Rakhine Sebagai Pembersihan Etnis

PBB Sebut Operasi Militer di Rakhine Sebagai Pembersihan Etnis

BERBAGI
Ilustrasi

Yangon, AHAD.CO.ID- Skala penderitaan di dalam negara bagian Rakhine di Myanmar “tidak terbayangkan” menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Senin (2/10), setelah tiga anggotanya turut serta dalam kunjungan terlambat pemerintah ke wilayah konflik tersebut.

Myanmar mengontrol ketat akses ke negara bagian itu sejak bulan lalu, ketika serangan militan Rohingya memicu serangan balasan dari militer yang membuat 500.000 minoritas muslim tersebut melarikan diri ke Bangladesh.

Puluhan desa-desa Rohingya telah dibakar. Perhitungan resmi Myanmar menyebutkan bahwa ratusan orang telah tewas saat aksi kekerasan mendera beberapa komunitas terpencil, termasuk Rohingya. Warga beragama Hindu dan etnis Rakhine juga termasuk di antara korban yang tewas.

Beberapa kelompok hak asasi manusia menyatakan bahwa jumlah kematian yang sebenarnya lebih tinggi, khususnya di antara warga Rohingya, sementara PBB menyebut operasi militer itu sebagai “pembersihan etnis” terhadap kelompok muslim tersebut.

Baca juga :   Khansa Syahla, Pendaki Cilik Indonesia yang Taklukan Puncak Kilimanjaro

Banyak pihak di Myanmar menuding PBB menunjukkan sikap bias pro-Rohingya sehingga membatasi akses lebih jauh lagi.

Kunjungan pada Senin menandai membaiknya hubungan, dengan PBB menyambut kunjungan itu sebagai “langkah positif” sembari menegaskan “kebutuhan akses kemanusiaan yang lebih besar”.

“Skala penderitaan manusia ini tak terbayangkan dan PBB menyampaikan belasungkawa terdalam kepada semua yang terdampak,” kata badan dunia itu, menyerukan diakhirinya “siklus aksi kekerasan” tersebut.

PBB juga mendesak “pemulangan aman, secara sukarela, bermartabat dan berkelanjutan para pengungsi ke daerah asal mereka.”