Beranda Mimbar Jika Ahok Seorang Teolog

Jika Ahok Seorang Teolog

BERBAGI
Ismail Al Alam/Dok Pribadi

Oleh Ismail Al Alam
Peminat kajian sosial politik

AHAD.CO.ID- Satu tahun lebih beberapa hari yang lalu, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, dalam kapasitasnya sebagai Gubernur DKI kala itu, memberikan pidato di hadapan masyarakat Pulau Seribu. Pidatonya itu tentang keberhasilan budidaya ikan kerapu, namun terselip di sana beberapa detik ungkapan yang menyinggung Surat Al-Maidah.

Tak lama kemudian, video pidatonya menjadi viral, menyulut emosi warganet, hingga lahirlah Aksi Bela Islam yang terkenal. Dampaknya cukup telak, yakni kekalahan Ahok dalam Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017 dan putusan hakim atasnya sebagai tersangka. Tapi ada dampak lain yang masih terasa hingga kini: seperti planaria, kita sebagai bangsa seakan membelah diri menjadi dua, dan hidup dengan kepentingan masing-masing, seperti tak ada lagi yang bisa dijalankan bersama antara satu kubu dan kubu lainnya.

Satu tahun lebih beberapa hari sudah berlalu, dan kita masih berada dalam dua kubu itu, dengan isu yang semakin berkembang nyaris tak terkendali atau, barangkali, justru dikendalikan oleh pihak di luar sana yang tak menaruh hormat apa pun pada apa yang kita perjuangkan, kecuali jumlah kita yang besar dan bisa menguntungkan mereka.

Untuk menyudahi benturan-benturan tak karuan ini, dan sebelum kita benar-benar berjibaku dengan senjata apa saja untuk membunuh kubu lawan, mari renungkan musabab pertentangan kita ini. Semua bisa dimulai dengan menarik pelajaran dari pidato Ahok.

Jika Ahok seorang teolog, ia pasti akan lebih berhati-hati dalam membahas urusan keyakinan agama lain. Teologi, yakni ilmu tentang Tuhan dan kaitannya dengan kehidupan manusia di dunia, dahulu memang lahir dan berkembang tatkala satu umat beragama berjumpa dengan umat beragama lainnya. Ada kebutuhan para pakar teologi untuk membela kebenaran agamanya di satu sisi, dan menunjukkan kekeliruan agama lain di sisi lain.

Kita dapat dengan mudah menemukan buku yang secara ilmiah menguraikan teologi suatu agama, atau menganalisis secara komparatif pemikiran teologis agama satu dengan agama lainnya. Kajian ilmiah lain juga menganalisis respons-respons teolog agama tertentu ketika berjumpa dengan agama lain. Walau terdapat respons berupa penyerangan atau penistaan, tetapi banyak juga dari respons itu yang memancing kajian ilmiah lebih serius sehingga memberi banyak manfaat dan sumbangan pemikiran bagi masing-masing umat.

Di zaman modern, untuk kasus Islam, kita sebenarnya bisa memperoleh manfaat itu. Sebagai orang yang meyakini kebenaran mutlak Islam, satu-satunya kebenaran yang tiada keraguan di dalamnya, saya menikmati bagaimana misalnya Prof. Mustafa Azami secara ilmiah, dalam beberapa bukunya, menunjukkan bahwa al-Qur’an, al-Hadits, dan syariat Islam adalah sesuatu yang final, bukan rekayasa sejarah akibat kemenangan politis pihak tertentu sebagaimana dituduhkan beberapa orientalis. Saya juga menikmati bagaimana prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas mengkritik sekularisme sampai di taraf metafisis, sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh seseorang dengan pemahaman filsafat Barat dan Islam yang dalam, dan kemampuan berlaku adil terhadap keduanya.

Baca juga :   Cermat Menafsir Mohammad Natsir (Bagian 2, Natsir Sebagai Begawan)

Tradisi ini juga didapat di dalam agama lain, termasuk agama yang dianut oleh Ahok. Terdapat suatu masa ketika tradisi polemik teologis ini berujung pada pertumpahan darah, seperti di masa Perang Salib atau kolonialisme Eropa atas negeri-negeri Islam. Namun setelah itu, kita juga menikmati polemik teologis yang bermartabat, bahkan sebagiannya terkesan berlebihan dan cari muka dengan mengajak umat menanggalkan klaim kebenaran agama masing-masing menuju kesatuan Pluralisme Agama. Terkait yang terakhir ini, anggaplah ia suatu kecelakaan sejarah yang harus ditanggapi sebagai persoalan teologis juga, meski kemunculannya justru dari penganut agama yang sama.

Namun Ahok tak punya kapasitas teologis itu. Ia terdidik secara akademis di bidang yang jauh dari teologi, terlatih secara pergaulan sebagai politisi, dan tidak meninggalkan jejak intelektual apa-apa sebagai pengkaji teologi (apalagi filsafat agama dan perbandingan agama) yang tekun. Maka ketika dengan pakaian dinasnya itu seorang Ahok menyinggung urusan agama orang, dalam rangka kunjungan dinas pula, ia telah betul-betul melakukan penistaan.

Namun apakah kita terbebas dari kesalahan yang sama? Keriuhan nyaris tiada henti dari dua kubu hingga saat ini, juga bobot argumentasi yang tak lebih dari umpatan, hoax, atau desas-desus tanpa verifikasi, sesungguhnya menunjukkan kapasitas perdebatan kita.

Ruang publik yang sehat harus diisi dengan gagasan yang saling dipertandingkan dan bisa dipertanggungjawabkan, baik karena ia berkorespondensi dengan kenyataan ataupun berkoherensi dengan argumen awal yang menjadi pijakan.

Suka atau tidak suka, kita mesti mengakui bahwa kita masih harus terus meningkatkan bobot itu, supaya hidup tidak terus diisi oleh kobaran kebencian, perasaan terancam, apalagi pertentangan tiada henti sesama anak bangsa.

Wallahu a’lam.