Beranda Ekspedisi Jejak Walisongo Serial #EJW: Gus Qoyyum, Lasem: Walisongo Tidak Mengajarkan Pluralisme!

Serial #EJW: Gus Qoyyum, Lasem: Walisongo Tidak Mengajarkan Pluralisme!

BERBAGI
Pengasuh Pondok Pesantren An Nur, Lasen, KH. Abdul Qoyyum/AHAD.CO.ID-tn.atjo

Lasem, AHAD.CO.ID- “Keberhasilan mengislamkan ratusan ribu orang di masa lalu adalah perjuangan Walisongo. Kita harus menjaga kesadaran sejarah itu saat ini, agar tidak terjadi permusuhan sesama umat Islam,” tegas pengasuh Pondok Pesantren An-Nur, KH. Abdul Qayyum atau yang akrab disapa Gus Qoyyum kepada AHAD.CO.ID, di rumahnya, Lasem, Rabu (6/9). Kedatangan Tim Ekspedisi Jejak Walisongo AHAD.CO.ID ke rumah beliau berdasarkan saran dari Gus Najih, yang kami temui semalam sebelumnya. 

Sambil menikmati cemilan dan teh hangat, dalam suasana pagi hari pantai utara pulau Jawa, kami mendapat banyak wejangan berharga dari ulama muda yang ramah ini. Menurut Gus Qoyyum, umat Islam di Indonesia dapat bersatu jika meneladani gaya dakwah Walisongo.

“Kalau kita berkomitmen “berdamai”, misalnya selama setahun saja, tak perlu terlalu lama dulu, untuk meneladani kebijaksanaan para wali dan terus membersihkan hati, Insya Allah persatuan akan terwujud,” terang beliau.

Baca juga :   Imam Masjidil Haram Syaikh As Sudais Serukan Persatuan Umat Islam

Dikelilingi rak kitab yang amat luas mengalahi dinding ruang tamunya, kami mewawancari Gus Qoyyum untuk memahami lebih lanjut sosok sembilan wali yang telah mengislamkan tanah Jawa itu. Gus Qoyyum secara bergantian mengucapkan Walisongo dan Sunan Songo untuk menyebut pihak yang sama. Berikut hasil wawancara kami:

Hasil penelusuran kami, sepertinya ada mata rantai keilmuan ulama masa kini dengan Walisongo yang terputus, benarkah begitu?

Kesulitan terbesar kita memang di dalam kitab-kitab sejarah. Kisah Walisongo tidak tertulis di literatur sejarah berbahasa Arab. Yusuf An-Nabhani (kakek pendiri Hizbut Tahrir, Taqiyuddin An-Nabhani), yang hidup di masa setelah Walisongo, dalam kitabnya Karomaitil Auliya (Karamah-karamah Para Wali) tidak mencantumkan Walisongo di dalamnya, padahal terdapat pembahasan tentang wali dari Afrika, India, Afhganistan, dan sebagainya.