Beranda Ekspedisi Jejak Walisongo Serial #EJW: Mama Pagelaran, Mendidik dan Melawan dari Celah Bukit

Serial #EJW: Mama Pagelaran, Mendidik dan Melawan dari Celah Bukit

BERBAGI
Tim Ekspedisi Jejak Walisongo AHAD.CO.ID bersama LAZNAS BSM Umat berfoto dengan KH Dandy Sobron Muhyiddin (Baju Putih) dan KH Asep Asrofil Anam di Ponpes Pagelaran 3/Sayyidul Aqsha

Subang, AHAD.CO.ID- K.H. Muhyiddin sebenarnya tidak hendak mendirikan pesantren, sampai ketika Bupati Sumedang memanggil anak muda berusia 19 tahun itu untuk menghadapnya. Sang Bupati yakin kalau beliau, yang menuntut ilmu ke beberapa ulama besar di Jawa Barat, mampu mendirikan pesantren dan mengajarkan Islam di sebuah desa bernama Cimalaka. Saat itu tahun 1900 dan Sumedang masih berada di bawah administrasi Pemerintahan Kolonial.

Gejolak peperangan mengharuskan Kiai Muhyiddin hijrah ke daerah berbukit di Karawang, tahun 1918. Dari sana, beliau membentuk laskar dan merencanakan serangan-serangan terhadap Belanda. Untuk menguatkan iman perjuangan, laskar yang sebagian besarnya penduduk setempat juga dibekali ilmu-ilmu agama. Sejak itu, terbentuk pesantren bernama Pagelaran yang masih berdiri hingga kini. Nama itu serupa dengan nama pesantren di Cianjur, satu di antara banyak tempat beliau menutut ilmu.

Suatu ketika, kala berkunjung kembali ke Cianjur, beliau tak lagi menemukan pesantren tempatnya menuntut ilmu di sana. Beberapa waktu kemudian, dalam sebuah mimpi, beliau merasa dihampiri gurunya yang berpesan untuk melanjutkan perjuangan. Kini menjelang seabad usia pesantren Pagelaran, perjuangan sang guru bukan hanya diteruskan, tetapi dikembangkan. Pesantren Pagelaran hingga saat ini berjumlah 8, tersebar di beberapa tempat di Jawa Barat.

Tiga Kelompok Santri

Tim Ekspedisi Jejak Walisongo AHAD.CO.ID bersama Laznas BSM Umat berkesempatan mendengarkan langsung kisah heroik Kiai Muhyiddin dari salah satu cucu beliau, K.H. Dandy Sobron Muhyiddin, dalam sebuah obrolan santai di teras rumahnya di Subang, Kamis (31/8) pagi.

“Sejak menamakan pesantrennya Pagelaran, Kiai (Muhyiddin-red) menjadi akrab disapa Mama Pagelaran,” terang Kiai Dandy. Berbeda dengan kata serapan dari bahasa belanda yang berarti “ibu”, istilah “Mama” bagi masyarakat Sunda bermakna ulama yang sangat ditinggikan.

Selama masa pergolakan mempertahankan kemerdekaan, di pesantrennya, Mama Pagelaran membagi santri ke dalam tiga kelompok. “Ada santri yang menuntut ilmu, ada yang berlatih militer untuk menjadi pejuang, dan yang melaksanakan zikir,” kata kiai muda yang meraih gelar sarjana dan magisternya di ITB ini. Pengelompokan itu, sambungnya, sesuai dengan penguasaan ilmu Mama dan kebutuhan masyarakat.

Kepada santri yang menuntut ilmu, Mama Pagelaran mengajarkan fiqh, aqidah, dan tasawuf. Beliau juga menguasai dan mengajarkan Tafsir Jalalain. “Beliau sangat produktif menulis dan menerjemahkan kitab,” kata adik Kiai Dandy, K.H. Asep Asrofil Alam, yang duduk di sebelah kakaknya.

Beliau lalu mengambil dua kitab karangan Mama yang masih digunakan. Salah satu kitab itu berjudul Kitab al-Ma’asyi, yang berarti Kitab Maksiat-maksiat. Di dalamnya membahas pelbagai maksiat yang harus dihindari manusia. “Ini adalah kitab tasawuf yang disarikan Mama dari banyak kitab kuning,” terang Kiai Dandy.

Baca juga :   Walikota Clichy Prancis Pimpin Warga Unjuk Rasa Halangi Shalat Jumat

Cara pegajaran Mama mirip kiprah Walisongo yang mengambil manfaat dari budaya setempat. “Mama menggunakan pupuh agar lebih dimengerti masyarakat awam,” terang Kiai Asep. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pupuh bermakna lagu yang terikat oleh banyaknya suku kata dalam satu bait, jumlah larik, dan permainan lagu. Ia adalah seni tembang khas Sunda. Secara keseluruhan, jumlah kitab karangan Mama sebanyak 40 judul. “Tetapi hanya tersisa beberapa,” tambah dia. Angka itu didapat dari penelusuran sejarawan Universitas Padjadjaran, Prof. Nina Herlina Lubis.

Kepada santrinya yang disiapkan untuk menjadi pejuang, Mama Pagelaran mengajarkan bela diri. “Beliau bahkan menorehkan kaligrafi di atas senjata murid-muridnya seperti golok dan pedang,” papar Kiai Dandy. Tak heran jika pesantrennya itu menjadi markas laskar Hizbullah dan Sabilillah, yang hampir selalu membuat Belanda ketar-ketir. Perjuangan itu pula yang membuat Mama kehilangan banyak orang kesayangan. “Salah satu puteranya, K.H. Eden, wafat dalam perang di Bandung. Salah satu istrinya juga meninggal selama masa perjuangan itu,” kenang dia.

Untuk santri yang berdzikir, Mama Pagelaran mengajarkan apa yang disebut ilmu hikmah. Namun, tak sembarang santri mendapatkannya. Putera pertama beliau, K.H. Abdullah adalah salah satu di antara santri yang memperoleh ilmu tersebut. Dalam praktik, ilmu tersebut adalah tasawuf itu sendiri. Yang menarik, setelah kondisi damai, mama seolah melarang ilmu hikmah digunakan lagi oleh para muridnya.

Ciri Khas

Rumah Kiai Dandy adalah bagian depan dari Pesantren Pegelaran 3. Beliau dan Kiai Asep memimpin pesantren warisan ayah mereka, K.H. Oom Abdul Qayyum, yang merupakan putera ke-17 dari Mama Pagelaran. Pesantren ini berdiri tahun 1963, dan kedua kiai muda itu menjadi generasi kedua yang mengasuhnya.

“Tiap pesantren punya ciri khas. Di Pagelaran 3 ini, ciri khasnya adalah pengajaran kitab kuning,” tutur Kiai Asep. “Saat ini, kami juga menyelenggarakan pendidikan formal, mengikuti kurikulum pemerintah,” imbuhnya.

Ciri lain terdapat di Pesantren Pagelaran 5 yang menonjol di bidang tarekat. “Delapan Pesantren Pagelaran dikelola oleh anak-anak Mama,” tambah Kiai Dandy. Jarak kedelapan pesantren itu saling berdekatan, dan sebagiannya berada di Subang. Pesantren terawal yang dirintis Mama kini juga masuk ke bagian Subang, setelah terjadi pemekaran dari Karawang.

ISMAIL AL ALAM | DUDY SYA’BANI TAKDIR | TIM EKSPEDISI JEJAK WALISONGO