Beranda Berita Gerakan Indonesia Salat Subuh (GISS) Dideklarasikan di Tangsel

Gerakan Indonesia Salat Subuh (GISS) Dideklarasikan di Tangsel

BERBAGI
Kredit foto: Tjahja Gunawan

Tangerang, AHAD.CO.ID- Gerakan Indonesia Sholat Subuh (GISS) dideklarasikan di Kota Tangerang Selatan, Islamic City. Bertempat di Masjid Asy-Syarif Al Azhar BSD, Kamis (17/8), para pengurus masjid yang tergabung dalam Forum Masjid dan Mushola BSD dan sekitarnya (FMMB), membacakan deklarasi GISS yang dibacakan Martha Bachtiar yang sekaligus dipercaya sebagai Ketua GISS Kota Tangsel Islamic City.

Kota Tangerang Selatan dipilih untuk yang pertama dalam melakukan deklarasi sekaligus membentuk pengurus di tingkat Kabupaten/Kota. Sebelum pembacaan deklarasi, Ketua GISS, KH Muhammad Al-Khaththath memberikan taushiyah sekaligus memberikan latar belakang lahirnya GISS.

Menurut Al-Khaththath, umat Islam yang cerdas niscaya akan memandang salat Subuh sebagai pintu pembuka bagi keberkahan hidup.

Jika setiap keluarga muslim bisa secara konsisten dan istiqomah menjalankan salat Subuh berjamaah di masjid terutama bagi laki-laki, Insha Allah Indonesia bisa menjadi negara yang gemah ripah lohjinawi, aman, tentram, dan sentosa. Negara yang baldatun thoyyibatun warrobbun ghofur.

Melalui Salat Subuh, setiap permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia akan selesai karena adanya campur tangan Allah Swt. “Kenapa Salat Subuh? Karena kehidupan diawali dengan Sholat Subuh. Inilah bedanya umat Islam dengan orang-orang kafir,” tandas Al-Khaththath.

Kemudian Al-Khaththath, yang sempat ditahan karena Tuduhan makar selama tiga bulan tiga belas hari, menyitir Al-Quran surah Al-Hajj ayat 41. Dalam ayat itu, Allah SWT menginformasikan beberapa indikasi masyarakat yang dikokohkan kedudukannya di dunia.

“Indikasi yang pertama adalah menegakkan salat dengan memenuhi masjid. Konon, ini pernah terjadi di zaman Khalifah Umar bin Abdul Aziz,” jelas Al-Khaththath yang juga alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) ini.

Untuk menyelesaikan krisis yang terjadi, jelas Al-Khaththath, Khalifah Umar bin Abdul Aziz menerapkan dua kebijakan. Pertama, memerintahkan penduduknya untuk memenuhi masjid dengan Sholat Subuh berjamaah seperti layaknya Shalat Jumat.

Baca juga :   Bersama Lembaga Dakwah dan Kemanusiaan, Forjim Keliling Nusantara

Kedua, khalifah membuat kebijakan untuk memasyarakatkan tilawah (membaca) Al-Quran. “Baik salat Subuh di masjid maupun tilawah Al-Quran. itu harus dimulai dari para pejabat pemerintahan,” tegasnya.

Indikasi kedua untuk membangun masyarakat yang kokoh adalah menunaikan zakat. Soal ini, Al-Khaththath mencontohkan salah seorang sahabat Nabi SAW bernama Muadz bin Jabal yang mengajak orang-orang Islam untuk berzakat.

Indikasi ketiga dan keempat adalah melaksanakan amar ma’ruf serta nahi munkar, dimana umat Islam seluruhnya harus menjadi pelaku utamanya.

Menurut Al-Khaththath, menjalankan Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar, bukan hanya tugas Jamaah Tabligh dan Front Pembela Islam (FPI). Tapi itu semua merupakan tugas dan tanggung jawab umat Islam.

Dalam konteks GISS, elemen jamaah yang nanti bertugas menggalang umat Islam, dilakukan oleh Satgas. Mereka itulah nanti yang akan mengajak umat Islam di linkungan terdekatnya dengan sukarela untuk sholat di masjid berjamaah.

Sementara itu, Usamah Hisyam selaku Sekretaris GISS menyatakan, GISS baru dibentuk sekitar dua pekan silam sebagai hasil rekomendasi dari para ulama di Jabodetabek.

Hingga kini, jelas Usamah, jumlah masjid di seluruh Indonesia sekitar 800.000. Sedangkan pengurus mesjid yang sudah menyatakan bergabung dalam GISS sekitar 100 masjid.

“Melaui GISS, diharapkan pada tahun 2020 nanti, Jamaah sholat Subuh di Indonesia bisa seperti Shalat Jumat,” pungkas Usamah Hisyam.

TJAHJA GUNAWAN | DUDY SYA’BANI TAKDIR