Beranda Headline Bolehkah Salat di Atas Kendaraan Saat Mudik Lebaran?

Bolehkah Salat di Atas Kendaraan Saat Mudik Lebaran?

BERBAGI
Ilustrasi

AHAD.CO.ID- Tanpa terasa sudah 21 hari Ramadan berlalu. Memasuki pekan ketiga, sebagian besar warga ibukota mulai berkemas-kemas memulai perjalanan jauh, pulang mudik menuju kampung halaman.

Bagi yang mudik melewati jalur darat, macet sudah barang tentu tak terelakkan. Jika terjadi demikian terkadang kita hanya bisa pasrah menunggu di mobil atau bus. Pun dengan pemudik yang menggunakan kapal sebagai transportasi. Lantas bagaimana hukum salat di atas kendaraan saat sedang bersafar?

Imam Nawawi dalam dalam kitab Al-Majmu’ Syarah Muhadzab 3/242 berpendapat, apabila seseorang sedang berada di dalam kendaraan (mobil, pesawat atau kapal) selama perjalanan, dan benar-benar tidak mampu turun dari kendaraan untuk melaksanakan salat fardhu di darat (bukan dengan alasan yang dibuat-buat), maka dibolehkan baginya melaksanakan salat fardhu di atas kendaraan dengan syarat khawatir terlewatnya waktu salat sebelum sampai di tempat tujuan. Namun jika ia bisa turun dari kendaraan, maka lebih baik ia turun dan langsung mengerjakan salat fardhu. Atau berniat menjamak shalatnya.

Hal ini berbeda dengan salat sunah yang boleh dilakukan di atas kendaraan saat sedang dalam perjalanan.

“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam biasanya shalat sunnah kemana pun untanya menghadap.” (HR. Muslim 33).

“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam biasanya shalat witir di atas unta.”(HR. Al Bukhari 999, Muslim 700).

Adapun untuk tata cara salat dalam kendaraan, dalam sebuah hadits shahih, Ibnu Abbas bertanya kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:

Baca juga :   Punya Pasar Potensial, Produk Halal Indonesia Diproyeksikan Terus Tumbuh

“Wahai Rasulullah, bagaimana cara shalat di atas perahu? Beliau bersabda: ‘Shalatlah di dalamnya sambil berdiri, kecuali jika engkau takut tenggelam.‘” (HR. Ad Daruquthni 2/68).

Islam itu mudah. Ketika ada kesulitan, maka muncul kemudahan. Demikian juga dalam hal salat ketika berkendara, seseorang diberikan kemudahan jika memang ada kesulitan. Berangkat dari kemudahan-kemudahan tersebut, maka tidak ada alasan seorang musafir melaksanakan salat selama ia di perjalanan karena perkara meninggalkan shalat termasuk dosa besar.

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Kaum muslimin tidaklah berselisih pendapat (sepakat) bahwa meninggalkan shalat wajib (shalat lima waktu) dengan sengaja adalah dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, zina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat.”

Wallahu’alam bishawab.

Penulis: Hamidah Busyrah