Beranda Gaya Hidup Muhibbah ke Masjid-Masjid di Benua Biru; The Great Mosque of Brussels

Muhibbah ke Masjid-Masjid di Benua Biru; The Great Mosque of Brussels

BERBAGI
The Great Mosque of Brussels/Ruli Renata

Catatan perjalanan Ruli Renata
Guru madrasah, backpaker, relawan ACT

AHAD.CO.ID- Assalamualaikum sahabat semua, bagaimana puasanya hari ini? semoga kita senantiasa diberikan kemudahan untuk melakukan berjuta amal kebaikan. Bagi sahabat yang ingin berpartisipasi dalam kegiatan kegiatan keren, Aksi Cepat Tanggap punya banyak kegiatan keren loh, kalau gak percaya kepoin aja www.act.id atau akun Fanpagenya Aksi Cepat Tanggap

Baiklah, hari ini saya akan meneruskan catatan perjalanan tentang masjid masjid di Benua Biru, check this out!

Angin sepoi-sepoi mengiring langkah kaki saya melintas di Parc du Cinquantenaire, pohon-pohon tua dan rumput menghijau menghiasi taman yang didirikan untuk memperingati 50 tahun kemerdekaan Belgia ini. Bangunan bermenara di ujung barat laut taman sudah terlihat menanti, itulah The Great mosque of Brussels.

Kredit foto: Ruli Renata

Ya, setelah seharian berkutat dengan berbagai agenda, tujuan saya hari ini mengunjungi Great Mosque of Brussels atau Islamic Cultural Centre Belgium yang merupakan masjid tertua di Belgia.

Masjid cantik ini memiliki sejarah panjang yang yang menarik. Pada awalnya bangunan hasil karya arsitek Ernest Van Humbeek yang selesai dibangun tahun 1879 ini diperuntukkan sebagai paviliun pameran kebudayaan negeri-negeri timur, dan setahun kemudian di tahun 1880 digunakan sebagai gedung eksebisi nasional Belgia. Namun karena kurangnya perawatan di abad 20 menyebabkan bangunan gedung tersebut mengalami kerusakan.

Pada tahun 1967, Raja Belgia, King Baudouin menghadiahkan bangunan tersebut kepada Raja Saudi Arabia, King Faisal bin Abdul al-Aziz, saat kunjungan resmi beliau ke Belgia. Momen itulah yang menjadi pembuka jalan untuk mengakomodasi kebutuhan masjid sekaligus pusat kebudayaan umat Islam Belgia yang mulai berkembang. Proses rekonstruksi bangunan tersebut cukup lama dan biaya pembangunan ditanggung sepenuhnya oleh kerajaan Saudi Arabia. Akhirnya masjid tersebut diresmikan penggunaannya tahun 1978.

Baca juga :   #AksiPeduliBencana: 48.540 Pengungsi Gunung Agung Butuh Bantuan
Kredit foto: Ruli Renata

Ketika memasuki bangunan ini, saya disambut oleh brother Ahmad yang sedang bertugas di front office. Setelah ngobrol banyak tentang masjid ini beliau mempersilakan saya untuk ke tempat salat karena hampir masuk waktunya. Oh iya, di masjid ini bagi pengunjung yang membawa tas ransel atau koper, silakan dititip di front office, insya Allah aman.

Ruang utama masjid yang terdapat di lantai tiga sangat luas. Interiornya khas arab, perpaduan karpet merah dan dinding yang penuh dengan ukiran mempercantik suasana masjid ditambah kilau lampu gantungnya yang menyala indah. jamaah yang hadir pun cukup banyak. Sambil menunggu waktu salat tiba mereka ada yang berdiskusi dan ada juga yang membaca Al Quran, Masya Allah.

Kredit foto: Ruli Renata

Selesai salat berjamaah, pengurus masjid mengumumkan akan diadakan salat ghaib bagi salah satu jamaah masjid yang meninggal. Dan inilah indahnya ukhuwah, mungkin banyak yang tidak mengenal siapa yang meninggal tetapi sebagai saudara seiman semua ikut menyolatkan dan mendoakannya.

Setelah salat ghaib saya akhirnya meninggalkan masjid yang indah ini, sebuah hikmah tertoreh di jiwa, bahwa maut akan datang kapan saja, dan semoga nanti kita bisa meninggal dengan khusnul khotimah. Aamiin

Editor: Daniel Amrullah