Beranda Headline Kisah Bilal Bin Rabbah (Bagian II, Kumandang Merdu di saat Fathu)

Kisah Bilal Bin Rabbah (Bagian II, Kumandang Merdu di saat Fathu)

BERBAGI

Tanpa menunggu perintah kedua, Bilal segera beranjak dan melaksanakan perintah tersebut dengan senang hati. Ia pun mengumandangkan azan dengan suaranya yang bersih dan jelas. Orang-orang semakin banyak berkumpul. Azan yang dikumandangkan Bilal itu merupakan azan pertama di Makkah.

Ribuan pasang mata memandang Bilal dan ribuan lidah mengikuti kalimat azan yang dikumandangkannya. Saat sampai pada kalimat, “Asyhadu anna Muhammadar Rasuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah).” Juwairiyah binti Abu Jahal bergumam, “Sungguh, Allah telah mengangkat kedudukanmu. Memang, kami tetap akan shalat, tapi demi Allah, kami tidak menyukai orang yang telah membunuh orang-orang yang kami sayangi.” Maksud Juwairiyah adalah ayahnya yang tewas dalam Perang Badar.

Baca juga :   PBB Akui Rohingya Sebagai Etnis Paling Tertindas di Dunia

Sejak saat itu, Bilal pun terkenal sebagai muazin Rasul. Bahkan, ia menjadi muazin tetap saat Rasul masih hidup. Tidak ada orang lain yang menggantikan Bilal. Yang lain pun tak keberatan Bilal melakukannya.

Bersambung ke bagian tiga
Bagian pertama: Berpegang Teguh Pada Tauhid

Serial ini ditulis oleh Johan Rio Pamungkas, penulis artikel lepas, Editor Majalah Kebudayaan Katajiwa