Beranda Headline Gubernurku, Sahabatku, Ultahku

Gubernurku, Sahabatku, Ultahku

BERBAGI
Indra J Piliang/dok pribadi

Oleh Indra J Piliang
Dewan Pendiri Sang Gerilya Institute

Selesai sudah. Satu pertempuran di medan laga politik jangka pendek, tentu. Bukan satu peperangan abadi melawan ketidakadilan dan dehumanisasi.

Terus terang, bagi saya kemenangan dalam pertempuran politik tak layak masuk dalam catatan. Saya sering melewati “pesta kemenangan” jika itu terjadi. Biasanya, saya kembali ke kegiatan-kegiatan pribadi di area yang jarang sorot lampu kamera. Saya telusuri jalanan sunyi untuk menemukan jawaban demi jawaban dari masalah-masalah yang mungkin hadir di masa depan.

Bukan tak patuh, ketika saya juga melakukan hal yang sama pada Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta pada tahun 2012. Dalam putaran kedua, saya memberikan dukungan kepada pasangan Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama. Saya menolak untuk hadir dalam kegiatan pemenangan yang dilakukan oleh DPP Partai Golkar. Bahkan, saya lebih memilih pulang kampung, menanam buah naga, sembari terus memantau seluruh tim pemenangan yang saya bentuk.

Baca juga :   Ekonomi Syariah Harus Manfaatkan Laju Ekonomi Digital

Setelah Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama dilantik, saya tidak pernah menginjakkan kaki di Balaikota. Hilang sama sekali “nafsu” saya untuk kesana. Saya baru datang pada tahun 2015, ketika diutus oleh Prof Dr Yuddy Chrisnandi, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi kala itu, guna menanyakan soal sistem penggajian Aparatur Sipil Negara (ASN) di DKI Jakarta. Selama Joko Widodo menjadi Gubernur, sama sekali saya tak pernah “menghadap”, walau ada beberapa fitnah yang muncul di media sosial.