Beranda Headline Kisah Bilal Bin Rabbah (Bagian I, Teguh Berpegang Pada Tauhid)

Kisah Bilal Bin Rabbah (Bagian I, Teguh Berpegang Pada Tauhid)

BERBAGI
Ilustrasi

AHAD.CO.ID- Dia lelaki yang lahir di Habasyah, Ethiopia saat ini, tepatnya di daerah as-Sarah. Semua Muslim selayaknya mengetahui kisah Sahabat yang suara terompahnya terdengar di surga.

“Ahad…Ahad…,” ucapan yang menurut penyiksanya adalah ucapan hina namun justru ucapan agung bagi orang yang yakin. “Ahad” bukan “Latta” ataupun “Uzza” tetapi, sekali lagi, “Ahad” Katanya walau dia disiksa, dicambuk, ditindih dengan batu besar namun tetap kata itu yang terucap oleh mulutnya.

Bilal bin Rabbah, nama lelaki pemberani dan berkomitmen tersebut. Jika adzan berkumandang maka ingatlah Bilal bin Rabah. Bila menyebut nama Bilal bin Rabbah, kita pasti terbayang kisah keteguhan hati seorang Muslim sejati. Betapa tidak. Saat umat Islam masih berjumlah sekian orang serta kekejaman yang diterima kaum Muslim, seorang budak berkulit kelam bertekad bulat dan mengikrarkan diri beriman kepada Allah SWT.

Dalam Tokoh-Tokoh Besar Islam Sepanjang Sejarah karya Syekh Muhammad Sa’id Mursi, dipaparkan bahwa Umayyah bin Khalaf pernah menyiksa dan membiarkannya dijemur di tengah gurun pasir selama beberapa hari. Di perutnya, diikat sebuah batu besar dan lehernya diikat dengan tali. Lalu, orang-orang kafir menyuruh anak-anak mereka untuk menyeretnya di antara perbukitan Makkah.

Saat berada dalam siksaan itu, tiada yang diminta Bilal kepada para penyiksanya, kecuali hanya memohon kepada Allah. Berkali-kali Umayyah bin Khalaf menyiksa dan memintanya agar meninggalkan agama yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Namun, Bilal tetap teguh pendirian.

Baca juga :   Gelar Mubes, Komunitas One Day One Juz Miliki Ketua Baru

Ia selalu mengucapkan, “Ahad-Ahad.” Ia menolak mengucapkan kata kufur (mengingkari Allah). Abu Bakar as-Sidiq lalu memerdekakannya. Umar bin Khattab berujar, “Abu Bakar adalah seorang pemimpin (sayyid) kami dan dia telah memerdekakan seorang pemimpin (sayyid) kami.”

Setelah merdeka, Bilal mengabdikan diri untuk Allah dan Rasul-Nya. Ke mana pun Rasul SAW pergi, Bilal senantiasa berada di samping Rasulullah. Karena itu pula, para sahabat Nabi SAW sangat menghormati dan memuliakan Bilal, sebagaimana mereka memuliakan dan menghormati Rasulullah SAW.

Bersambung ke bagian dua, Sang Pengumandang Azan Pertama

Serial ini ditulis oleh Johan Rio Pamungkas, penulis artikel lepas, Editor Majalah Kebudayaan Katajiwa