Beranda Headline Laporan Pusat Studi Eropa SETA: Islamophobia di Eropa Meningkat Drastis

Laporan Pusat Studi Eropa SETA: Islamophobia di Eropa Meningkat Drastis

BERBAGI
Kampanye anti Islamophobia di depan kedutaan Prancis di London, 25 Agustus 2016/AFP PHOTO / JUSTIN TALLIS

Berlin, AHAD.CO.ID– Baru-baru ini penelitian tentang Islamophobia di 27 negara Eropa memberikan bukti bagaimana fenomena ini berkembang, mengancam cita-cita keragaman dan demokrasi di seluruh benua biru dan meningkatkan tindak kekerasan kepada Muslim.

“Muslim dipandang sebagai musuh dari dalam,” demikian menurut Asisten Profesor Universitas Turki-Jerman, direktur Eropa Studies-SETA, Enes Bayrakli seperti dikutip dari International Islamic News Agency (IINA), Rabu (5/4).

Co-editor Laporan Islamophobia Eropa (EIR), Farid Hafez menulis. “Jadi, serangan fisik dan pembatasan hak politik terhadap muslim sering dilakukan. Islamophobia ini tidak hanya dilakukan oleh pekerja miskin atau kelas menengah yang menerima informasi salah tentang Islam dan Muslim, tapi banyak juga dilakukan oleh orang-orang yang berpendidikan,” demikian tulisnya.

Dia mencontohkan, di antara tindakan Islamophobia yang sering terjadi adalah kebijakan diskriminasi seperti larangan jilbab untuk profesi tertentu, larangan mengenakan niqab di depan umum, larangan menara masjid dan undang-undang lainnya membatasi kebebasan umat Islam dari agama berbicara banyak.

Baca juga :   Lindungi Generasi Muda dari Bahaya Liberalisme, ITJ Bekasi Gelar Workshop

Laporan Islamophobia Eropa 2016 direncanakan akan diluncurkan ke publik pada Jumat (7/4). Penyusunan laporan ini bekerja sama dengan 31 dewan ulama di berbagai negara Eropa. Pada edisi pertama, para editor mencatat kasus yang sebagian besar terjadi di negara anggota Organization for Cooperation and Security in Europe (OCSE).

Di Jerman misalnya, serangan terhadap pengungsi yang berasal dari negara mayoritas Muslim telah meningkat secara dramatis. Menurut pihak berwenang setempat, Kementerian dalam negeri mengatakan lebih dari 3.500 serangan tersebut terjadi pada tahun 2016, dibandingkan dengan 1.031 pada tahun 2015.