Beranda Mimbar Menjaga Lisan, Ibadah Paling Ringan Namun Berat Timbangan Kebaikannya

Menjaga Lisan, Ibadah Paling Ringan Namun Berat Timbangan Kebaikannya

BERBAGI
Ilustasi/Wikimedia

“Menjaga lisan dan berakhlak baik Rasulullah Sebut sebagai ibadah yang paling ringan. Namun hari ini, kedua hal itu justru menjadi perkara yang sering kita tinggalkan.”

AHAD.CO.ID- Dalam hadits nomor 388 kitab Syarah Mukhtaarul Ahaadiits, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam memberitahukan ibadah yang paling ringan untuk kita lakukan, yakni menjaga lisan dan berakhlak baik. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Abuddunya melalui sahabat Shafwan.

“Ingatlah, aku akan memberitahukan kepada kalian tentang ibadah yang paling mudah dan paling ringan bagi tubuh kalian, yaitu: berdiam dan berakhlak yang baik”

Dua hal yang sangat terpuji adalah diam dan berakhlak baik. Yang Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam maksud dengan berdiam ialah tidak berbicara, melainkan hanya seperlunya saja, tidak berbicara kecuali hal itu memang bermanfaat, dengan kata lain menjaga lisan dari kesia-siaan.

Namun yang terjadi hari ini justru sebaliknya, lebih mudah mengumbar bicara ketimbang berdiam diri. Lebih mudah menguar aib saudara ketimbang menjaga kehormatannya dengan lisan kita.

Hal ini tentu berlaku juga dalam “berbicara lewat tulisan.” Mari kita ingat-ingat, berapa sering kita berbicara yang sesungguhnya kita tidak punya pengetahuan terhadapnya, sehingga tersebarlah berita-berita bohong atau yang dikenal dengan hoax.

Di media sosial misalnya, kita dengan mudah mencaci orang hanya karena tidak sependapat. Dengan mudah pula kita menuliskan status-status yang tidak bermanfaat, padahal Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam berpesan agar kita menjaga lisan.

Dalam mahfuzat (kata mutiara) kita sering mendengar, salamatul insan fi hifdzil lisan yang berarti selamatnya seorang manusia terletak pada menjaga lisannya. Karena sesungguhnya banyak malapetaka yang disebabkan oleh lisan yang tidak terjaga, dan yang paling terbesar adalah menjerumuskan pelakunya kedalam neraka.

Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam berkata, “tiadalah yang menjerumuskan manusia kedalam neraka melainkan karena ulah lisan mereka.”

Berdiam atau menjaga lisan tentu berkaitan dengan akhlak yang baik. Dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah, radhiyallahu ‘anhu, yang diriwayatkan oleh Imam Hakim, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menceritakan tentang wahyu Allah ‘azza wa jalla kepada Nabi Ibrahim ‘alaihi salam

“Wahai kekasih-Ku, berakhlak baik lah engkau sekalipun dengan orang-orang kafir. Niscaya engkau akan dimasukan ke dalam tempat orang-orang yang berbakti (surga).”

Masya Allah tabarakallah, jika kepada orang-orang yang tidak beriman kepada Allah ‘azza wa jalla saja kita harus berakhlak baik, bagaimana lagi kepada sesama orang yang beriman. Tentu saudara-saudara mukmin kita berhak terhadap akhlak baik kita, kendati berbeda pemahaman atau bahkan berbeda madzhab.

Semoga Allah ‘azza wa jalla memberikan kita pertolongan untuk bisa menjaga lisan dan berakhlak baik, mencontoh akhlaknya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Aamiin.

KH. Bunyamin Mustofa, MA

Baca juga :   Puisi Sukmawati Memenuhi Unsur Tindak Pidana Penodaan Terhadap Agama